KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Setelah bekerja sama di "Pieces of a Woman" (2020), Kornél Mundruczó langsung jatuh hati pada Ellen Burstyn. Aktris pemenang Oscar itu hanya tampil dua hingga tiga hari di lokasi syuting, tetapi kesan yang ditinggalkannya begitu dalam.
"Saya mencintainya. Tentu saja saya mencintai film-filmnya, tapi bekerja dengannya berada di level lain. Saya merasa sedang bersama seorang master," ujar Mundruczó kepada Variety dalam wawancara Zoom dari Budapest.
Kisah Cinta yang Tak Biasa untuk Aktris Legendaris
Sepanjang 70 tahun kariernya, Burstyn identik dengan peran-peran gelap dalam film horor seperti "The Exorcist" dan drama berat seperti "Requiem for a Dream." Mundruczó sengaja ingin memberikan sesuatu yang berbeda untuk aktris berusia 91 tahun itu.
"Saya selalu ingin memberikannya kisah cinta karena karya-karyanya cenderung kelam. Saya ingin membuat film yang ringan untuknya," kata sutradara yang juga dikenal lewat film "White God" ini.
Hasilnya, "Place to Be" menghadirkan Burstyn sebagai Brooke, seorang janda yang anak-anaknya berusaha memasukkannya ke panti jompo. Hidupnya berubah ketika seekor merpati masuk melalui jendela dan menolak pergi. Brooke pun memulai perjalanan lintas kota untuk mengembalikan burung itu ke pemiliknya, dan bertemu Nelson (Taika Waititi), seorang duda, di tengah jalan. Persahabatan tak terduga terbentuk di antara mereka berdua dan sang merpati.
Ide dari Balapan Merpati dan Metafora Bintang Tua
Ide film ini muncul ketika Mundruczó menghadiri lomba balap merpati, olahraga historis di mana merpati terlatih dilepas dari lokasi tertentu dan terbang pulang secepat mungkin.
"Itu sangat indah. Sesuatu yang terlupakan, karena merpati dulu sangat penting—ini burung pembawa pesan yang berasal dari zaman Alkitab," katanya.
Bagi Mundruczó, merpati juga menjadi metafora yang pas untuk aktor senior yang mulai jarang mendapat peran besar. "Dulu Anda memiliki arti penting, dan kini arti itu tidak ada lagi, tapi kualitas Anda tetap sama," jelasnya.
Kimia Ellen Burstyn dan Taika Waititi yang Langsung Terasa
Setelah Burstyn bergabung, tantangan berikutnya adalah mencari aktor yang bisa beradu akting dengannya. Mundruczó menginginkan sosok berkepribadian kuat yang tidak terkesan kaku sebagai aktor.
"Taika muncul di benak saya. Dia punya sesuatu seperti yang dimiliki Robin Williams—badut sedih. Seseorang yang menyimpan kedalaman dan kompleksitas asli di balik wajah ceria," ujar Mundruczó.
Saat pertama bertemu, Burstyn dan Waititi langsung terhubung. "Itu langsung menjadi cinta yang besar. Mereka sangat dekat dan chemistry di antara mereka fantastis," tambahnya.
Di jajaran pemeran pendukung, Murray Bartlett dan Pamela Anderson berperan sebagai anak-anak Brooke. Menariknya, ketiganya memiliki kemiripan fisik yang mencolok. "Secara genetis sangat mirip. Saat melihat mereka bersama, Anda benar-benar percaya mereka satu keluarga," kata Mundruczó.
17 Merpati Asli dan Komitmen Tanpa CGI Berlebihan
Bintang terbesar "Place to Be" mungkin justru sang merpati yang diberi nama Intruder oleh karakter Burstyn. Mundruczó bersikeras memakai burung asli dan seminimal mungkin menggunakan CGI. Sebanyak 17 merpati memerankan Intruder.
"Ellen jatuh cinta pada setidaknya lima dari mereka," kata Mundruczó sambil tertawa. "Itu pengalaman yang indah dan menunjukkan betapa dekat manusia bisa dengan hewan."
Produksi yang berlokasi di Sydney, Australia, dan New York ini melibatkan sekitar 1.000 ekor merpati untuk adegan-adegan kawanan burung, dengan pawang profesional di lokasi. "Bagian yang paling saya banggakan: kami tidak kehilangan seekor merpati pun!" tegasnya.
Mundruczó berharap penonton pulang dengan perasaan penuh harap setelah menonton "Place to Be"—dan mungkin juga rasa sayang baru pada merpati.
"Dari sudut pandang Brooke, dia ingin menolong burung kecil ini, tapi pada satu titik justru burung itu yang menolongnya. Hal yang sama berlaku untuk karakter Nelson. Burung kecil ini menjadi penolong bagi kehidupan mereka berdua," pungkasnya.