KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Investasi asing di sektor industri logam dasar Indonesia melesat dari di bawah US$2 miliar pada 2010 menjadi US$14 miliar pada 2024, menurut data Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia. Lonjakan ini menandai pergeseran struktur ekonomi wilayah tambang dari sektor primer ke industri pengolahan. Hilirisasi nikel dan mineral lain disebut mulai mengubah peta ekonomi nasional, meski masih menghadapi tantangan efisiensi investasi.
Paragraf pembuka: Industrialisasi berbasis tambang mineral berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan banyak pihak. Wilayah di sekitar tambang yang sebelumnya hanya menjadi pemasok bahan mentah kini bertransformasi menjadi pusat pengolahan komoditas. Perubahan ini tercermin dari derasnya investasi yang masuk ke sektor pengolahan logam dalam beberapa tahun terakhir.
Investasi Logam Dasar Melampaui Sektor Lain
Data CORE Indonesia menunjukkan Penanaman Modal Asing (PMA) untuk sektor Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya pada 2010 masih di bawah US$2 miliar. Saat itu, sektor pertambangan, industri kertas dan percetakan, serta transportasi, gudang, dan telekomunikasi justru mendominasi aliran investasi asing.
Mulai 2019, posisi itu berbalik. PMA di sektor logam dasar terus tumbuh meninggalkan sektor-sektor lain dan kini menembus US$14 miliar. Sementara tiga sektor pesaingnya bergerak naik turun sejak 2010 dan kini tidak melebihi US$8 miliar.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menuturkan, Indonesia yang sebelumnya hanya dikenal sebagai penghasil bahan baku mineral kini menjelma menjadi negara yang berambisi memproses seluruh komoditas tambangnya sendiri.
"Filipina tuh sebetulnya ingin mengikuti langkah Indonesia, pathway industrialisasi, hilirisasi Indonesia. Tapi mereka enggak bisa. Dia (pelaku usaha Filipina) bilang bahwa Indonesia tuh terlalu besar dan sudah lebih duluan advanced membangun (ekosistem) industri ini," kata Faisal di sela sosialisasi MediaMIND 2026, Senin (14/9).
Negara-negara penghasil mineral lain, terutama di Afrika, bahkan disebut ingin meniru langsung pola hilirisasi Indonesia. "Setiap kali mereka (negara-negara Afrika) bertanya kebijakan apa yang dilakukan Indonesia, ingin langsung copy paste gitu, banyak negara-negara penghasil mineral itu yang memang ingin mengikuti langkah Indonesia," ujar Faisal.
MIND ID Perkuat Kendali atas Nikel dan Tembaga
Momentum hilirisasi semakin deras setelah MIND ID diperkuat sebagai holding tambang negara. Pada Juli 2024, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) resmi bergabung, menyusul PT Freeport Indonesia yang lebih dulu masuk pada 2018.
Dengan menguasai nikel, tembaga, dan produk turunannya, MIND ID dinilai dapat mendukung target pemerintah memastikan posisi Indonesia dalam mengatur pasokan serta harga komoditas mineral utama. Ujungnya, penerimaan negara dari sektor ini diharapkan lebih terjaga.
Faisal menambahkan, kebutuhan teknologi masa depan akan bahan baku mineral yang semuanya tersedia di Indonesia. "Dan semestinya kalau industri high-tech-nya yang punya value added lebih tinggi seperti baterai itu bisa berjalan dengan mulus nantinya, mestinya sih value added-nya bisa lebih tinggi lagi. Karena selama ini yang dorong ini tuh yang dorongnya baru dari smelter di hilir," jelasnya.
Tantangan ICOR dan Kualitas Output
Hilirisasi telah menunjukkan sejumlah indikator positif. Selain investasi yang meningkat, tanda pergeseran dari de-industrialisasi menuju re-industrialisasi mulai terlihat dari pertumbuhan industri manufaktur yang dalam beberapa kuartal terakhir lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun Faisal mengingatkan, proses ini masih berada di tahap awal dan perlu diuji konsistensinya. Salah satu tantangan utama adalah tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR), indikator yang mengukur seberapa efektif investasi menghasilkan output.
"Once kita bisa mengatasi masalah itu, artinya investasi dikeluarkan, output-nya bisa lebih tinggi. Tapi bukan cuma output, selalu saya bilang kualitasnya juga," kata Faisal.
Peningkatan investasi ke depan dituntut mampu menghasilkan pertumbuhan output yang lebih besar, menciptakan lapangan kerja formal, sekaligus meningkatkan kualitas produk. Tanpa itu, hilirisasi berisiko berhenti di level smelter dan belum menyentuh industri bernilai tambah tinggi seperti baterai kendaraan listrik.
Penutup: Posisi Indonesia sebagai pemain utama hilirisasi mineral kini diperhitungkan negara lain, bahkan disebut sulit dikejar Filipina. Namun keberlanjutan lonjakan ini bergantung pada kemampuan memperbaiki efisiensi investasi dan menaikkan nilai tambah, bukan sekadar memperbanyak smelter di hilir.