KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Sanggar Swargaloka mementaskan drama wayang bertajuk Kijang Kencana di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan durasi hampir tiga jam sejak pukul 15.00 hingga sekitar pukul 18.00. Pertunjukan ini memadukan wayang kulit, live music gamelan dan instrumen modern, serta format drama musikal yang menuntut para pemainnya menyanyi dan menari. Lewat kemasan itu, Swargaloka ingin membuktikan seni tradisional wayang tetap bisa bicara kepada penonton muda tanpa kehilangan akarnya.
Sajian seni tradisional tidak harus kaku dan kuno. Lewat pertunjukan drama wayang (drayang) bertajuk Kijang Kencana, sanggar tari Swargaloka menunjukkan bahwa wayang mampu tampil relevan dan kekinian di hadapan penonton masa kini.
Premis: Sisi Lain Si Kijang Jelmaan Cakil
Dalam epos Ramayana, seekor kijang jadi-jadian berhasil memancing Rama dan adiknya, Laksmana, sehingga Shinta pun diculik Rahwana. Drayang Kijang Kencana mengajak penonton menyelami kisah dari sisi lain: si kijang yang ternyata jelmaan raksasa bernama Kalamarica alias Cakil.
Kalamarica digambarkan menjalani hidup tanpa beban selama ibunya masih ada. Semua berubah setelah sang ibu berpulang akibat panah seorang ksatria bernama Rama, sosok yang sempat ia kagumi.
Panggung yang Terasa Seperti Kelir
Di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, pertunjukan dibuka dengan siluet Gunungan dan sejumlah tokoh wayang diiringi tetabuhan. Latar panggungnya serasa kelir, layar kain putih tempat bayang-bayang wayang kulit diproyeksikan.
"Jika wayang kau sapa dengan kata kuno, maka berkacalah pada Rahwana yang cintanya terus menunggu tak peduli zaman berganti," ujar sang narator saat bayangan Semar muncul.
Ansambel pepohonan kemudian muncul dan menari mengiringi kehadiran Kalamarica. Alur berlanjut ke muasal pembuangan Rama, Shinta, dan Laksmana ke hutan Dandaka, memadukan siluet Prabu Dasarata dan Dewi Kekayi yang berdebat dengan para tokoh yang hadir langsung di panggung.
Kalamarica lalu disambut para raksasa di Alengka. Adik Rahwana, Sarpakenaka, menerimanya, dan Rahwana menjanjikan hidup yang lebih baik.
"Dunia akan berpihak pada mereka yang tidak diam. Bara akan menyala untuk cinta yang berkuasa," kata Rahwana meyakinkan Kalamarica.
Gamelan, Dansa, sampai Candaan Pinggir Jurang
Drayang mengandalkan live music yang memadukan gamelan dan instrumen modern. Pukulan drum di momen tertentu membuat suasana terasa lebih dar-der-dor, sementara format drama musikal menuntut para pemain menyanyi dan menari.
Tariannya tidak sebatas gerak tari Jawa yang halus atau gerak modern yang enerjik. Salah satu yang menarik perhatian adalah gerakan dansa yang diperagakan Laksmana dan Sarpakenaka.
Dialog antarpemain tidak hanya mengantar cerita, tapi juga menyelipkan bahasan yang sedang tren di kalangan muda. Sarpakenaka menyanyikan lagu My Mine Gueh milik Naykilla, disusul tawa ang-ang-ang Shinta dan ringkasan cerita yang dibuka dengan gaya "Pemirsa Insert, melaporkan langsung dari tempat peristiwa".
Candaan pinggir jurang yang mengkritik sikap pemerintah juga mewarnai pertunjukan. "Kamu jadi wakil tapi beneran kerja lho," ujar salah satu anggota pasukan raksasa kerajaan Alengka, disambut tawa penonton.
Wayang Kulit Tetap Jadi Poros Cerita
Di sela penampilan para pemain, pertunjukan tetap menghadirkan wayang kulit seperti yang dipahami masyarakat luas. Dalang memainkannya bukan sebagai sajian terpisah, melainkan bagian dari cerita.
Kehadiran wayang kulit itu mengingatkan bahwa drayang memang kembangan dari pertunjukan wayang kulit. Sejumlah unsurnya dihadirkan: pembukaan Gunungan atau Kayon, adegan di keraton Ayodya, banyolan kelompok raksasa yang mengingatkan pada bagian Gara-gara atau kemunculan Punakawan, hingga pertarungan saat Rama dan Laksmana tahu sosok kijang itu utusan Rahwana.
Catatan untuk Pementasan Berikutnya
Ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian. Sejumlah dialog kurang jelas artikulasinya, terutama Kalamarica saat mengenakan topeng khas Cakil sehingga ia kesulitan menyampaikan dialog.
Narator yang menyampaikan pengantar di awal pertunjukan juga mungkin lebih menarik jika disatukan dengan narasi dalang bersama wayang kulitnya.
Kendati demikian, drayang ini mampu menyuguhkan pertunjukan yang dinikmati dari awal sampai akhir nyaris tanpa rasa bosan, meski berjalan panjang sejak pukul 15.00 sampai sekitar pukul 18.00 dengan jeda istirahat 15 menit.
Bagi industri pertunjukan Indonesia, Kijang Kencana jadi contoh bagaimana format kolaboratif bisa menarik penonton baru tanpa menggadaikan pakem wayang yang jadi akarnya.