Koalisi Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI) mengumumkan pada Senin (14/4) bahwa mereka akan segera mempercepat pengembangan vaksin untuk melawan Bundibugyo ebolavirus (BDBV). Ini adalah respons langsung terhadap wabah yang saat ini tidak terkendali di Republik Demokratik Kongo. Dana segar sebesar 60 juta dolar AS lebih dialokasikan untuk tiga kandidat vaksin sekaligus.
Dari jumlah tersebut, komitmen terbesar—hingga 50 juta dolar AS—diberikan kepada Moderna yang berbasis di AS. Perusahaan ini akan menggunakan platform mRNA yang sama yang berhasil melahirkan vaksin Covid-19 dalam waktu singkat. Dana itu mencakup pengembangan praklinis dan uji klinis Fase 1.
Platform mRNA yang Terbukti Cepat
Moderna tidak hanya akan mengerjakan riset awal. Pendanaan ini juga memungkinkan perusahaan untuk menyiapkan kapasitas manufaktur dan merancang uji coba Fase 2/3 skala besar. Semua itu akan dieksekusi jika kandidat vaksin lolos dari pengujian awal.
"Kami percaya platform mRNA dapat memainkan peran penting dalam merespons ancaman penyakit menular yang muncul dengan cepat," kata CEO Moderna Stéphane Bancel dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa timnya akan bergerak dengan urgensi dan ketelitian ilmiah untuk mendekatkan vaksin potensial ke komunitas yang paling membutuhkan.
Bundibugyo, Jenis Ebola yang Jarang Tapi Mematikan
Bundibugyo ebolavirus (BDBV) adalah salah satu dari enam spesies virus Ebola yang diketahui. Pertama kali diidentifikasi di Uganda pada 2007, virus ini memiliki tingkat fatalitas yang tinggi. Wabah terbaru di Kongo menunjukkan bahwa penularan sudah berada pada level mengkhawatirkan.
CEPI menekankan bahwa percepatan ini bersifat darurat. Organisasi tersebut berkomitmen untuk memadamkan wabah sebelum menyebar lebih luas. Vaksin yang efektif untuk BDBV saat ini belum ada di pasaran.
Implikasi untuk Indonesia dan Asia Tenggara
Meskipun wabah terjadi di Afrika, pengembangan vaksin mRNA untuk Ebola memiliki arti penting bagi kawasan Asia. Teknologi mRNA yang sama bisa diadaptasi untuk patogen lain yang mengancam Indonesia, seperti virus Nipah atau demam berdarah. Keberhasilan uji coba ini akan memperkuat argumen untuk membangun kapasitas produksi vaksin mRNA di negara berkembang.
Moderna sendiri sudah memiliki pengalaman dalam uji coba vaksin mRNA untuk virus lain seperti Zika dan influenza. Portofolio ini membuat perusahaan itu menjadi mitra utama CEPI dalam menghadapi ancaman pandemi di masa depan.
Dengan pendanaan ini, Moderna akan memulai uji coba pada manusia dalam beberapa bulan ke depan. Jika hasilnya positif, vaksin bisa masuk ke tahap uji coba massal lebih cepat dari perkiraan normal yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun.