Pencarian

Roket Komersial China Meledak di Orbit, Taburkan Ratusan Puing Baru di Dekat Starlink dan ISS

Selasa, 16 Juni 2026 • 10:28:01 WIB
Roket Komersial China Meledak di Orbit, Taburkan Ratusan Puing Baru di Dekat Starlink dan ISS
Roket Zhuque-2E milik LandSpace meledak di orbit rendah Bumi pada 9 Juni 2024.

Roket Zhuque-2E buatan perusahaan swasta China, LandSpace, meledak tak lama setelah mencapai orbit pada 9 Juni lalu. Misi tersebut sukses mengantarkan dua satelit komunikasi langsung-ke-seluler, namun tahap atas roket gagal melakukan manuver pembuangan dan justru hancur berkeping-keping.

Ratusan Puing Baru Mengancam Lalu Lintas Orbit

US Space Force mengkonfirmasi ledakan ini dalam pengumuman di situs space-track.org. Militer AS memperkirakan peristiwa itu menghasilkan 100 hingga 150 pecahan baru yang kini terdeteksi radar.

"Puing-puing yang terlacak sedang dimasukkan ke dalam penilaian konjungsi rutin untuk mendukung keselamatan penerbangan antariksa," tulis Space Force dalam peringatannya. Mereka menambahkan bahwa saat ini belum ada ancaman terhadap penerbangan antariksa manusia.

Mengapa Ledakan Ini Berbahaya?

Lokasi ledakan menjadi sorotan utama. Orbit Bumi rendah (LEO) sudah menjadi kawasan paling padat lalu lintas di antariksa. Di zona yang sama, ribuan satelit Starlink beroperasi untuk menyediakan internet global, sementara ISS terus dihuni oleh awak dari berbagai negara.

Tabrakan antara puing bergerak cepat dan satelit aktif bisa memicu efek Kessler — reaksi berantai di mana satu tabrakan menghasilkan lebih banyak puing, yang kemudian menabrak satelit lain. Skenario ini bisa membuat orbit tertentu tidak bisa digunakan dalam waktu lama.

LandSpace dan Ambisi Antariksa Komersial China

Zhuque-2E adalah roket berbahan bakar metana cair pertama di dunia yang berhasil mencapai orbit. LandSpace, perusahaan di balik roket ini, merupakan salah satu pemain utama dalam industri antariksa swasta China yang tengah berkembang pesat.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi roket komersial semakin matang, kegagalan disposal burn — proses pembakaran sisa bahan bakar untuk menurunkan orbit — masih menjadi titik lemah. Bila tidak dikelola, setiap peluncuran berpotensi menambah sampah antariksa yang sudah mencapai puluhan ribu keping.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Space Force dan badan antariksa lain akan terus memantau pergerakan puing-puing tersebut. Jika ada risiko tabrakan dengan satelit aktif, operator satelit biasanya melakukan manuver penghindaran — yang memakan bahan bakar dan memperpendek umur misi.

Untuk pengguna internet di Indonesia yang mengandalkan Starlink, belum ada dampak langsung yang dilaporkan. Namun, setiap penambahan puing di orbit meningkatkan risiko gangguan jangka panjang terhadap layanan satelit, termasuk komunikasi, navigasi, dan pengamatan Bumi.

Insiden ini juga memperkuat desakan global untuk aturan yang lebih ketat soal mitigasi sampah antariksa. China sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait ledakan roket milik LandSpace tersebut.

Bagikan
Sumber: arstechnica.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks