KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Data penjualan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan BYD membukukan 5.264 unit distribusi dari pabrik ke dealer dan 3.757 unit penjualan ritel ke konsumen hingga Juni 2026. Namun daftar produksi Gaikindo untuk periode yang sama tidak mencantumkan nama BYD sebagai produsen. Daftar tersebut baru mencakup 26 merek, mulai dari Toyota, Mitsubishi, Hyundai, hingga merek China lain seperti Wuling, Chery, dan Jaecoo.
Kegiatan impor BYD pada semester pertama tahun ini tercatat hanya 536 unit, terdiri dari dua model: Seal dan Atto 3. Padahal pada semester I-2025, perusahaan masih mengimpor 14.179 unit secara utuh dari China. Model yang paling laris di pasaran justru bukan dari dua model impor tersebut.
BYD Atto 1 dan M6 Dominasi Penjualan
Distribusi terbanyak justru diraih model BYD Atto 1 dengan 2.249 unit, disusul BYD M6 DM sebanyak 1.825 unit, dan BYD M6 versi reguler 827 unit. Ketiganya tidak masuk dalam daftar impor CBU tahun ini, mengindikasikan ketiga model tersebut sudah dirakit secara lokal.
Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengonfirmasi bahwa pabrik di Subang sejatinya sudah memproduksi beberapa unit. "Seperti kalian lihat ada beberapa kendaraan yang digunakan test drive sudah menggunakan kendaraan yang diproduksi di fasilitas tersebut," jelas Luther pada Juni lalu.
M6 DM: Produk Rakitan Lokal untuk Pasar Indonesia
BYD M6 DM (Dual Mode) menjadi model yang paling kuat sinyalnya sebagai produk rakitan lokal. Meski belum memberikan pernyataan resmi, Luther memberikan isyarat tegas saat ditanya status produksi M6 DM. "Harusnya iya (sudah diproduksi lokal). Tentunya M6 DM ini secara khusus dipersiapkan untuk Indonesia, disiapkan dan dilengkapi dan komponen-komponen yang diproduksi di Indonesia," bebernya.
Artinya, pabrik BYD di Subang Metropolitan sejatinya sudah beroperasi meski belum tercatat dalam data produksi resmi Gaikindo. Kemungkinan besar, perusahaan masih dalam tahap produksi terbatas atau soft production sebelum mencapai kapasitas penuh. Data produksi Gaikindo biasanya baru mencatat suatu merek setelah volume produksi mencapai ambang tertentu atau setelah pabrik dinyatakan resmi beroperasi penuh.
Fenomena ini menunjukkan strategi BYD yang tetap agresif menjual di Indonesia sambil menyelesaikan transisi dari importir penuh menjadi produsen lokal. Dengan volume distribusi mencapai ribuan unit, tekanan untuk segera meresmikan operasional pabrik Subang pun semakin besar. Publik dan pelaku industri masih menungkap kapan pabrik tersebut benar-benar "ngebul" dan masuk dalam data resmi Gaikindo.