KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — MPV besar berteknologi hybrid ini sejatinya adalah saudara kembar Toyota Sienna yang sudah dikenal di pasar global. Bedanya, Granvia diproduksi oleh FAW Toyota, sementara Sienna dirakit GAC Toyota — dua pabrikan lokal China yang sama-sama menjadi mitra Toyota. Di booth Auto China 2026 pekan lalu, Granvia tampil dengan grille besar dan lampu LED sipit yang memberi kesan modern, meski dari kejauhan bentuknya seperti MPV keluarga pada umumnya.
Dimensi Bongsor dengan Kursi Kapten dan Ottoman
Panjang bodi mencapai sekitar 5,1 meter, membuat Granvia bermain di kelas yang sama dengan Alphard. Begitu pintu geser elektrik terbuka, baris kedua dengan captain seat langsung menyita perhatian. Jok dilengkapi ottoman dan ruang kaki lega — persis seperti mobil sultan. Fitur lain yang tersedia di beberapa varian meliputi panoramic sunroof, wireless charging, hingga sistem pemurni udara.
Mesin Hybrid 2.5 Liter, Lebih ke Kenyamanan
Toyota membekali Granvia dengan mesin hybrid 2.5 liter yang dipadukan motor listrik. Tenaga gabungan diklaim mencapai 240 hp, disalurkan lewat transmisi e-CVT. Karakter mobil ini lebih fokus pada kenyamanan dan efisiensi bahan bakar dibanding performa agresif — cocok untuk perjalanan jarak jauh bersama keluarga.
Selisih Harga Hampir Tiga Kali Lipat
Di China, Granvia dibanderol mulai 299.800 yuan hingga 393.800 yuan. Dengan kurs saat ini, angka itu setara Rp660 juta sampai Rp860 jutaan. Bandingkan dengan Alphard Hybrid di Indonesia yang kini dijual mendekati Rp2 miliar. Selisihnya nyaris tiga kali lipat, padahal dari segi dimensi dan kenyamanan, Granvia bermain cukup dekat dengan Alphard. Tentu harga tersebut belum termasuk bea masuk dan pajak jika suatu saat Granvia resmi masuk Indonesia.
Praktik menduakan model dengan nama berbeda antara dua pabrikan lokal seperti FAW dan GAC sudah lazim di China. Selain Granvia, Toyota juga memasarkan Sienna versi GAC yang identik secara teknis. Bagi konsumen Indonesia, kehadiran Granvia setidaknya jadi gambaran bahwa MPV mewah hybrid sebenarnya bisa dijual lebih terjangkau — hanya saja pasar dan kebijakan masing-masing negara sangat menentukan banderol akhir.