KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — BP resmi mengumumkan penjualan mayoritas portofolio BP Ventures ke Verdane, perusahaan ekuitas swasta asal Nordik, pada Senin (14/4). Keputusan ini mengakhiri perjalanan unit ventura yang berdiri sejak 2007 dan dikenal agresif berinvestasi di sektor transisi energi.
Dalam siaran pers, BP menyebut akan tetap memegang saham di sejumlah kecil perusahaan yang dinilai punya potensi menciptakan nilai bagi bisnis inti perusahaan. Namun, BP menolak merinci perusahaan mana saja yang dipertahankan.
Portofolio Senilai Rp 19,8 Triliun, Return Tak Sesuai Ekspektasi
Sepanjang hampir 20 tahun beroperasi, BP Ventures menanamkan modal di berbagai sektor: hidrogen hijau, e-mobilitas, ride-hailing, kendaraan otonom, sewa jet pribadi, hingga panas bumi. Sayangnya, kinerja finansial portofolio ini dinilai kurang memuaskan.
Jurnalis Axios Alan Neuhauser melaporkan tahun lalu bahwa nilai portofolio BP Ventures diperkirakan mencapai USD 1,2 miliar (sekitar Rp 19,8 triliun). Angka itu hampir sama persis dengan total modal yang digelontorkan BP sejak unit ini didirikan pada 2006. Artinya, hampir tidak ada keuntungan berarti yang dihasilkan selama dua dekade.
Nasib Karyawan BP Ventures Masih Misteri
BP enggan berkomentar soal nasib karyawan BP Ventures pasca-penjualan ini. Perusahaan beralasan masih terikat aturan ketenagakerjaan setempat. Meski demikian, gelombang PHK diyakini sulit dihindari.
Proses penjualan portofolio ditargetkan rampung pada kuartal II 2027. Langkah ini menjadi sinyal paling jelas bahwa BP kini benar-benar mengerem investasi di sektor iklim, setelah sebelumnya mulai menggeser fokus dari energi bersih awal tahun ini.
Catatan redaksi: Estimasi nilai rupiah menggunakan kurs Rp 16.500 per USD 1.