KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Penjualan motor listrik nasional tahun 2025 hanya mencapai 55.059 unit, turun drastis dari 77.078 unit pada 2024. Data Kementerian Perhubungan melalui Sistem Registrasi Uji Tipe (SRUT) itu menjadi bukti betapa ketidakjelasan subsidi membuat konsumen menahan belanja.
Alasan Penundaan: Masih Dikaji, Tanpa Kepastian Waktu
Airlangga Hartarto menyatakan insentif motor listrik yang sempat dijanjikan awal tahun kembali molor. "Masih dikaji lagi, iya ditunda lagi, sementara dikaji dulu," ujarnya dikutip detikFinance. Pemerintah menargetkan program bisa jalan per Agustus, meski belum ada kepastian soal skema akhir.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengumumkan besaran insentif Rp 5 juta per unit pada awal Mei 2026. Jauh lebih kecil dibanding subsidi Rp 7 juta yang berlaku di 2024. Kuota yang disiapkan 100.000 unit tahap pertama, dengan janji tambahan jika habis.
Penjualan 2025 Merosot, Produsir Cari Akal
Sepanjang 2025, tak ada satu pun insentif yang terealisasi meski pemerintah sudah berjanji sejak awal tahun. Akibatnya, angka penjualan motor listrik ambles 28,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Padahal, minat masyarakat terhadap kendaraan nol emisi sebenarnya masih ada—terbukti dari 55 ribu unit yang tetap laku tanpa bantuan subsidi.
Beberapa produsen motor listrik lokal menyiasati situasi ini dengan sistem sewa baterai. Strategi itu membuat harga on the road (OTR) terlihat lebih kompetitif di mata konsumen yang sensitif terhadap harga. Namun, model bisnis ini belum cukup mendongkrak volume penjualan secara signifikan.
Dua Tahun Beruntun Insentif Bermasalah
Ini bukan pertama kali program subsidi motor listrik bermasalah. Tahun 2024, pemerintah sempat memberikan insentif Rp 7 juta dan berhasil mendorong penjualan di atas 77 ribu unit. Namun, tahun 2025 janji serupa tak pernah ditepati hingga tutup tahun. Kini, penundaan kedua di 2026 membuat industri kembali gigit jari.
Data SRUT Kemenhub menunjukkan angka 55.059 unit itu mencakup seluruh merek motor listrik yang beredar di Indonesia. Artinya, pasar sedang lesu secara merata, bukan hanya merek tertentu. Tanpa kepastian insentif, target elektrifikasi kendaraan roda dua nasional semakin berat tercapai.