KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengungkapkan potensi limbah sawit nasional sangat besar, dengan sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit menghasilkan limbah cair hingga 130 juta meter kubik per tahun. Namun, pemanfaatan sebagai sumber energi domestik masih minim. "Hampir 90 persen sebenarnya bisa diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru," kata Hokkop dalam forum Climate Policy Initiative (CPI) di Jakarta, pekan lalu.
Skema Agregator dan Target Cofiring 2,5 Persen
PLN EPI akan bertindak sebagai agregator dan offtaker dalam ekosistem CBG terintegrasi. Perusahaan menghubungkan pabrik kelapa sawit sebagai pemasok bahan baku, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, hingga pembangkit listrik sebagai pengguna akhir.
"Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat," ungkap Hokkop.
Untuk satu turbin gas PLTGU Belawan berkapasitas 130 MW dengan cofiring 2,5 persen, dibutuhkan sekitar 450 MMBTUD Bio-CBG. Kebutuhan itu setara pemanfaatan 330.000 meter kubik POME per tahun dari satu fasilitas CBG. Untuk empat turbin, diperlukan empat fasilitas dengan total investasi USD20 juta.
Potensi Pengurangan Emisi 14 Juta Ton CO2e per Tahun
Secara nasional, PLN EPI menghitung dari total kapasitas pembangkit gas 18,4 GW, kebutuhan CBG untuk cofiring 2,5 persen mencapai 60.000 MMBTUD. Skema itu diperkirakan melibatkan sekitar 200 pabrik kelapa sawit dan berpotensi mengurangi emisi hingga 14 juta ton CO2e.
Selain manfaat lingkungan, satu proyek CBG disebut mampu menghasilkan nilai ekonomi Rp1,7 triliun dan menekan emisi sekitar 700 ribu ton CO2e. Implementasi di PLTGU Belawan sendiri diperkirakan menghindari emisi hingga 500 ribu ton CO2e.
Roadmap Produksi CBG 2026–2030
PLN EPI menargetkan kapasitas produksi CBG meningkat dari 1.000 MMBtu pada 2026 menjadi 2.957 BBTU pada 2030. Pada periode yang sama, perusahaan akan membangun tiga fasilitas CBG untuk memasok kebutuhan pembangkit dan mendukung program dedieselisasi nasional.
Hokkop menambahkan, pengembangan CBG tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi metana, tetapi juga mendukung target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional sebesar 44-48 persen pada 2030 serta pencapaian Net Zero Emissions (NZE) 2060. "Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kita membangun skema bisnis yang tepat," ujarnya.