Pemerintah Kabupaten Belitung menggelar apel siaga untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah meningkatnya kejadian kebakaran di wilayah tersebut. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Belitung, kasus karhutla hingga September telah mencapai 305 kejadian dengan lahan terdampak seluas 442,03 hektare.
BELITUNG — Bupati Belitung, Djoni Alamsyah Hidayat, memimpin langsung Apel Siaga Karhutla di Halaman Gedung Nasional, Selasa. Kegiatan ini digelar sebagai bentuk komitmen serius pemerintah daerah dalam menghadapi ancaman kebakaran yang kerap terjadi di wilayah tersebut.
Djoni menegaskan bahwa pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.
"Mari kita jadikan pencegahan karhutla ini sebagai tanggung jawab kita bersama. Kita jaga Belitung, jaga kesehatan kita, dan terus tingkatkan partisipasi sesuai dengan porsi, peran, dan kapasitas kita masing-masing," ujarnya usai memimpin apel.
Angka Kebakaran di Belitung Capai 305 Kasus
Kepala BPBD Belitung, Zainal Harison, memaparkan bahwa jumlah kasus karhutla di daerah itu hingga September mencapai 305 kasus. Luas lahan yang terdampak mencapai 442,03 hektare.
Angka tersebut menjadi dasar pentingnya penguatan langkah pencegahan dan penanganan di lapangan. Apel siaga kali ini dihadiri petugas BPBD, pemadam kebakaran, TNI/Polri, Manggala Agni, Satpol PP, hingga perwakilan pemerintah kecamatan dan desa.
Sepuluh Poin Pedoman Penanganan Karhutla
Dalam kesempatan tersebut, Djoni memaparkan sepuluh hal yang menjadi pedoman bersama dalam menghadapi ancaman karhutla. Poin pertama menekankan pentingnya langkah pencegahan melalui edukasi, sosialisasi, dan pengawasan berkelanjutan di daerah rawan.
Penguatan deteksi dini juga menjadi perhatian utama. Setiap informasi mengenai keberadaan asap maupun titik api harus segera ditindaklanjuti tanpa menunggu kondisi membesar.
"Saya mengingatkan masyarakat dan seluruh pihak untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar yang dapat menimbulkan risiko kebakaran," tegas Djoni.
Petugas Diminta Utamakan Keselamatan
Poin penting lainnya menyangkut keselamatan para petugas di lapangan. Djoni berpesan agar seluruh aparat bertindak profesional dan memprioritaskan keselamatan diri saat menjalankan tugas pemadaman.
Pelibatan masyarakat lokal juga dinilai krusial. Warga di lapangan merupakan mata dan telinga pemerintah yang efektif dalam mengawasi lingkungan.
Perlindungan Warga dari Kabut Asap
Pemerintah daerah turut menyoroti perlindungan kesehatan masyarakat dari bahaya paparan kabut asap. Langkah evakuasi wajib disiapkan pada setiap insiden yang membahayakan keselamatan warga.
"Poin kesembilan menekankan pentingnya penguatan pelaporan serta komunikasi publik agar informasi kejadian karhutla disampaikan secara cepat, akurat, dan transparan. Sementara poin kesepuluh mewajibkan kesiapsiagaan langkah evakuasi," jelas Djoni.
Apresiasi tinggi diberikan kepada seluruh aparat dan relawan yang berada di garis terdepan penanganan karhutla. Djoni mengakui pengabdian petugas di lapangan tidak mudah, namun semangat mereka sangat penting untuk memastikan kobaran api tidak meluas dan warga tetap terlindungi.