KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Weton Jawa dan astrologi Barat sama-sama jadi rujukan populer soal jodoh. Keduanya membaca karakter dan kecocokan, meski berangkat dari latar budaya yang jauh berbeda.
Di ranah akademis internasional, rujukan yang membahas penggabungan keduanya terbilang langka. Para peneliti menyoroti perbedaan filosofi dan metodologi sebagai sebab utamanya.
Weton Jawa dan Neptu Perjodohan
Weton bukan sekadar tanggal lahir. Sistem ini memadukan tujuh hari dalam sepekan dengan lima hari pasaran: Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi.
Kombinasi keduanya menghasilkan 35 paduan unik. Masing-masing punya nilai numerik dan makna simbolis tersendiri.
“Setiap kombinasi ini memiliki nilai numerik dan makna simbolis yang mendalam, yang dipercaya memengaruhi karakter dan takdir seseorang,” jelas Dr. Ronald E. Smith dari Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 45, No. 2, 2014.
Prof. Sarah Miller dalam buku “The Mystical World of Java: An Anthropological Perspective” (University of Chicago Press, 2018) menyebut Weton sebagai cetak biru spiritual. Sistem ini dipengaruhi animisme, Hindu, dan Islam.
Untuk perjodohan, perhitungannya lewat penjumlahan neptu kedua pihak. Hasilnya lalu dicocokkan dengan kategori seperti Pegat, Jodoh, Pati, atau Tinari.
Zodiak Barat dan Harmoni Elemen
Astrologi Barat membaca posisi Matahari terhadap rasi bintang saat kelahiran. Tahun dibagi jadi 12 tanda, dari Aries sampai Pisces.
Nicholas Campion lewat “A History of Western Astrology” (2012) menelusuri akarnya ke tradisi Babilonia kuno. Sistem ini kemudian dikembangkan Yunani dan Romawi.
Tiap tanda terhubung dengan elemen api, tanah, udara, atau air. Ada juga kualitas kardinal, tetap, dan berubah, plus planet penguasa.
“Banyak orang menemukan kenyamanan dan panduan dalam interpretasi zodiak untuk memahami diri mereka sendiri dan orang lain, termasuk dalam konteks hubungan romantis,” ujar Dr. Karen Douglas dalam Skeptical Inquirer Vol. 38, No. 4, 2014.
Kecocokan pasangan biasanya ditinjau lewat harmoni elemen. Api dianggap serasi dengan udara, tanah beriring dengan air.
Saat Dua Tradisi Disandingkan
Menyatukan Weton dan zodiak Barat bukan perkara sederhana. Keduanya berdiri di atas kosmologi, filsafat, dan metode yang berlainan.
Dr. Eleanor Vance dalam Journal of Cultural Anthropology Vol. 29, No. 3, 2016 memetakan perbedaan poros kedua sistem ini. Kajian antropologi lain melihat Weton sebagai cerminan pandangan dunia Jawa yang holistik.
Jadi, kalau kamu tertarik memadukan keduanya, anggap saja sebagai bahan renungan. Soal jodoh, keputusan tetap ada di tanganmu sendiri.