KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Abraham dan Szor bukan nama baru di lingkaran dokumenter politik. Keduanya adalah dua dari empat sutradara No Other Land, dokumenter yang memenangi Oscar 2025. Kini mereka kembali dengan proyek yang jauh lebih berisiko: merekam sistem militer negara mereka sendiri dari dalam.
NAZA menjadi satu-satunya film dokumenter yang masuk jajaran kompetisi utama Venice Film Festival tahun ini. Film ini diproduksi surat kabar Inggris The Guardian bersama James Wilson dari JW Films, dengan Jonathan Glazer sebagai produser eksekutif.
Sistem di Balik Serangan Udara Israel
NAZA diambil pada malam hari di atas atap-atap bangunan Tel Aviv. Sinopsis resminya menyebut film ini menampilkan "secara detail sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza yang terencana."
Judul NAZA sendiri diambil dari istilah yang dipakai intelijen Israel. NAZA adalah akronim untuk collateral damage atau kerusakan sampingan, yakni angka perkiraan jumlah warga sipil yang akan tewas dalam sebuah serangan udara. Istilah itu muncul berulang di sepanjang film.
Yang membuat NAZA berbeda dari dokumenter perang lain adalah sumbernya. Dua puluh empat personel militer Israel yang diwawancarai semuanya berbicara dengan syarat identitas dirahasiakan. Wajah dan suara mereka diubah secara digital untuk melindungi mereka dari kemungkinan penjara atau pembalasan.
Proses Tiga Tahun dalam Kerahasiaan Total
Abraham menyebut pengumpulan narasumber sebagai tantangan tersendiri. Ia bekerja sebagai jurnalis investigatif dan sudah bertahun-tahun membangun jaringan sumber dari dalam sistem Israel. Sebagian jejak itu terhubung dengan laporan investigasi The Guardian, majalah +972, dan Local Call.
"Kami mengerjakan film ini selama tiga tahun, dalam kerahasiaan total," kata Abraham kepada Variety di Venice. Ia mengaku selalu berasumsi bahwa negara Israel, dan mungkin lembaga negara lain, akan berusaha mencegah film ini dibuat.
Bagi Abraham dan Szor, fokus NAZA bukan pada kesalahan individu tentara atau insiden sporadis. Keduanya ingin menyorot apa yang mereka sebut sebagai kejahatan sistemik, bagian mendasar dari cara pemerintah dan militer Israel beroperasi.
Pengeboman Rumah dan Peran AI dalam Pemilihan Target
Szor menyebut beberapa praktik yang dibahas dalam film: penggunaan kecerdasan buatan untuk memilih siapa yang jadi target, pembantaian di lokasi distribusi bantuan pangan, hingga penembakan warga yang kembali ke lingkungan mereka setelah mengungsi.
Namun ada satu hal yang paling membekas bagi Szor. Yakni pola menargetkan warga Palestina di rumah mereka, bersama seluruh anggota keluarga. Menurutnya, inilah yang memberi film ini judulnya.
"Cara intelijen Israel memetakan rumah-rumah itu adalah hal yang disengaja. Itu salah satu alasan utama banyaknya warga sipil yang tewas," ujar Szor.
Risiko yang Dihadapi Kru
Pertanyaan soal keselamatan pribadi tak bisa dihindari. Abraham dan Szor tinggal di Israel, tempat keluarga dan teman-teman mereka berada. Abraham menyebut hidup mereka ada di sana, begitu pula rasa bermakna yang ia cari.
"Rasa bermakna hidup kami adalah tentang mengubah tempat itu," katanya, seraya menegaskan bahwa kejahatan yang mereka dokumentasikan harus terus diungkap.
NAZA menambah daftar dokumenter politik yang tayang di festival besar Eropa tahun ini. Posisinya di kompetisi utama Venice memberi panggung yang jauh lebih luas dibanding rilis terbatas, sekaligus memastikan debat soal narasi perang Gaza kembali mengemuka di kalangan kritikus dan industri film internasional.