KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Jauh sebelum hiruk-pikuk transisi energi menggema, Indonesia sudah mencatatkan diri sebagai salah satu produsen migas terbesar di Asia. Dua wilayah menjadi tulang punggungnya: Rokan di Riau dan Mahakam di Kalimantan Timur. Jika Rokan identik dengan simbol kejayaan minyak, maka Mahakam adalah saksi lahirnya industri gas bumi nasional.
Sejarah mencatat, ketertarikan terhadap cekungan Mahakam sudah dimulai pada akhir abad ke-19. Pemerintah kolonial Belanda kala itu melakukan survei geologi di sepanjang Sungai Mahakam hingga Sanga-Sanga setelah menemukan rembesan minyak alami. Pengusaha Belanda J.H. Menten kemudian memperoleh konsesi dari Kesultanan Kutai dan menggandeng Marcus Samuel, pendiri Shell Transport and Trading.
Pengeboran eksplorasi modern pertama dilakukan pada 1897 di sekitar Sanga-Sanga. Hasilnya mengejutkan: ditemukan cadangan minyak yang ekonomis. Sejak saat itu, Mahakam menjelma menjadi pusat eksplorasi migas Hindia Belanda. Hingga 1940, lapangan-lapangan darat di kawasan Samarinda Antiklin tercatat menghasilkan sekitar 33 juta barel minyak.
Kontrak Bagi Hasil dan Penemuan Lapangan Raksasa
Memasuki era kemerdekaan, eksplorasi besar-besaran kembali digencarkan. Pada 6 Oktober 1966, Permina—cikal bakal Pertamina—menandatangani kontrak Production Sharing Contract (PSC) dengan JAPEX asal Jepang. Empat tahun berselang, Total E&P masuk sebagai mitra dengan hak partisipasi 50 persen dan ditunjuk sebagai operator lapangan.
Kontrak serupa juga diteken dengan Huffco Inc. pada 8 Agustus 1968 untuk eksplorasi di wilayah Sanga-Sanga. Menyusul kemudian kontrak-kontrak lain di sekitar delta Mahakam, termasuk Attaka yang dikelola Chevron dan Inpex.
Upaya itu membuahkan hasil. Pengeboran di Lapangan Bekapai menemukan migas dan produksi pertama dimulai pada 1974. Setelahnya, bermunculan lapangan-lapangan raksasa seperti Handil, Tambora, Tunu, Peciko, Sisi, Nubi, hingga South Mahakam. Cekungan Mahakam pun resmi menyandang status salah satu kawasan gas terbesar di Indonesia.
Cadangan 50 TCF dan Peran Strategis bagi Negeri
Sejak awal pengembangannya, Blok Mahakam diperkirakan menyimpan cadangan sekitar 50 triliun kaki kubik (TCF) gas dan 5 miliar barel minyak. Angka itu menjadikan wilayah ini pusat produksi gas nasional yang memasok kebutuhan industri domestik sekaligus menopang ekspor LNG Indonesia selama puluhan tahun.
Hingga kini, Pertamina melalui anak usahanya terus menjaga agar "jantung" migas di Kalimantan ini tetap berdetak. Pengelolaan yang berkelanjutan menjadi kunci agar produksi tidak merosot tajam, mengingat blok ini sudah beroperasi lebih dari satu abad.
Keberadaan Mahakam tidak hanya soal angka produksi. Wilayah ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam industri energi, sekaligus pengingat bahwa transisi energi tidak boleh mengabaikan peran gas bumi sebagai jembatan menuju energi bersih. Pertamina memastikan blok strategis ini tetap berkontribusi bagi ketahanan energi nasional di tengah berbagai tantangan industri hulu migas.