KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, kekayaan bersih Elon Musk turun dari sekitar USD1,45 triliun pada 16 Juni 2026 menjadi USD738 miliar pada penutupan perdagangan 23 Juli 2026. Artinya, dalam lima pekan, nilai aset pemilik Tesla dan SpaceX itu berkurang USD650–700 miliar di atas kertas. Penurunan ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah untuk seorang individu.
Pemicu utama berakar pada kinerja saham dua perusahaan andalan Musk. SpaceX baru melantai di bursa pada 12 Juni 2026 dengan harga IPO USD135, dan sempat melesat ke rekor tertinggi USD225,64 hanya empat hari berselang. Namun, hingga penutupan Jumat pekan lalu, sahamnya merosot ke USD112,96—turun 16 persen dari harga IPO dan 50 persen dari level puncak.
Dua Pemicu Utama: Gagalnya Starship dan Laporan Tesla yang Buruk
Tekanan terhadap saham SpaceX dipicu pembatalan peluncuran Starship pada 16 Juli akibat kegagalan mesin. Peristiwa itu membuat saham SpaceX turun lebih dari 4 persen di perdagangan after-hours dan memangkas kekayaan Musk sekitar USD45 miliar di atas kertas menurut Forbes.
Sementara itu, laporan keuangan Tesla kuartal II 2026 menjadi pukulan kedua: laba per saham non-GAAP hanya USD0,33 (vs konsensus USD0,50), pendapatan operasional anjlok 56,88 persen menjadi USD398 juta, margin operasional 1,4 persen, dan arus kas bebas negatif minus USD1,09 miliar akibat belanja modal melonjak 141,81 persen. Akibatnya, saham Tesla ambruk 14,52 persen dalam sehari—penurunan harian terbesar sejak Juni 2025—dan menguapkan sekitar USD18,6 miliar dari kekayaan Musk.
Short Seller Raup Untung USD15,5 Miliar
Di tengah kejatuhan harga saham, pelaku short selling justru diuntungkan. Analisis Investing.com menunjukkan keuntungan di atas kertas sekitar USD15,5 miliar. Posisi jual (short interest) meningkat hingga sepertiga dari total saham yang beredar di publik.
Sebelumnya, Musk sempat memperingatkan mereka melalui platform X, menyebut peluang bertahan “sangat rendah” dalam jangka panjang. Namun, tekanan jual terus bertambah setelah pernyataan tersebut.
Musk Masih Pegang Kendali, Spekulasi Merger Menguat
Meski nilai kepemilikannya menyusut, Musk tetap mengendalikan SpaceX. Dokumen yang disampaikan ke SEC menunjukkan ia menguasai sekitar 42 persen kepemilikan ekonomi, tetapi memiliki 82 persen hak suara melalui struktur saham dua kelas. Hal ini membuat fluktuasi harga saham lebih membebani pemegang saham publik ketimbang kendali operasional perusahaan.
Dalam paparan kinerja kuartal II Tesla, Musk menyinggung sinergi yang semakin besar antara Tesla dan SpaceX. Ia menyebut integrasi Starlink pada Cybertruck dan pengembangan TeraFab sebagai contoh. Meski demikian, ia menegaskan rencana penggabungan kedua perusahaan masih memerlukan proses yang sesuai.
Investor kini menanti laporan keuangan perdana SpaceX sebagai perusahaan publik pada 4 Agustus, berakhirnya masa lock-up saham pada 6 Agustus, serta jadwal uji coba Starship berikutnya.