Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk sektor perumahan di Bangka Barat kini berada di level 107,26 pada Juni 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 104,6. Secara tahunan, inflasi kelompok ini telah mencapai 3,73 persen (year on year/yoy).
Biaya Perbaikan Rumah Naik Lebih dari 2 Persen
Subkelompok pemeliharaan, perbaikan, dan keamanan rumah menjadi penyebab utama kenaikan. BPS melaporkan subkelompok ini mengalami inflasi sebesar 2,54 persen secara bulanan, melonjak tajam dari posisi 0,31 persen pada bulan sebelumnya.
Kenaikan ini berkontribusi langsung terhadap inflasi umum di Bangka Barat. Dari total tujuh kelompok pengeluaran yang diukur, sektor perumahan menempati urutan kelima dalam hal andil inflasi di daerah tersebut.
Posisi Bangka Barat di Panggung Nasional
Dibandingkan dengan 133 kabupaten/kota lain di Indonesia, inflasi perumahan di Bangka Barat tergolong menengah. Inflasi tertinggi secara nasional tercatat di angka 0,63 persen dengan IHK 107,56, sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Pandeglang sebesar 1,86 persen. Bangka Barat sendiri menempati urutan ke-10 secara nasional untuk subkelompok ini.
Sementara itu, inflasi umum nasional pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,44 persen secara bulanan. Secara year to date, inflasi nasional telah mencapai 1,95 persen dan secara tahunan berada di angka 3,34 persen.
Transportasi Masih Jadi Sektor Paling Inflatif
Meski biaya perumahan naik, sektor transportasi tercatat sebagai kelompok pengeluaran dengan inflasi bulanan tertinggi di Bangka Barat pada Juni 2026, yakni mencapai 1,58 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya terjadi pada kebutuhan pokok rumah tangga, tetapi juga pada mobilitas warga.
Data BPS ini menjadi sinyal bagi Pemerintah Kabupaten Bangka Barat untuk mencermati pola konsumsi rumah tangga. Kenaikan biaya perbaikan rumah, khususnya, bisa menjadi indikator meningkatnya harga material bangunan atau jasa konstruksi di tingkat lokal.