PANGKALPINANG — Tradisi Suku Jerieng yang telah mengakar di Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, akan mendapat sentuhan baru. Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Kepemudaan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Kepulauan Babel, Wydia Kemala Sari, mengatakan festival tahun ini akan memadukan unsur budaya Tionghoa dan Melayu dalam satu kesatuan acara.
"Festival Suku Jerieng tahun ini akan dijadikan sebagai satu kesatuan event wisata budaya yang unik dan menarik bagi wisatawan," kata Wydia di Pangkalpinang, Sabtu.
Wisata Panen Durian hingga Sedekah Gunung Pelangas
Rangkaian festival tidak hanya berisi pertunjukan budaya. Pengunjung diajak menyelami kearifan lokal warga melalui ritual sedekah Gunung Pelangas yang merupakan tradisi turun-temurun Suku Jerieng.
Setelah ritual, wisatawan bisa menikmati wisata kelekak—menunggu buah durian jatuh langsung di kebun warga. Selain durian, tersedia juga panen duku, manggis, dan rambutan. Aktivitas lain yang ditawarkan adalah wisata panen padi dan menangkap udang di sungai Desa Pelangas.
Kerukunan Etnis Jadi Modal Pariwisata
Wydia menegaskan perpaduan budaya ini bukan sekadar strategi promosi, melainkan bukti nyata kerukunan antarumat beragama, suku, dan ras di Kepulauan Bangka Belitung. "Ini akan menjadi sangat menarik, karena tradisi dan kearifan lokal warga Desa Pelangas ini akan dipadukan dengan budaya masyarakat Tionghoa dan Melayu di daerah ini," ujarnya.
Menurutnya, masyarakat Desa Pelangas masih memegang teguh adat budaya yang dikenal dengan Adat Jerieng. Hal ini menjadi modal utama bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan pariwisata berbasis komunitas.
Festival Suku Jerieng sendiri telah menjadi agenda tahunan Pemprov Kepulauan Babel yang berkolaborasi dengan Pemkab Bangka Barat. Dengan konsep baru yang lebih inklusif, festival ini diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara.