JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada awal sesi perdagangan Kamis (16/1). Indeks utama bursa tanah air itu ambles 28,85 poin ke level 6.191,89, setelah pada penutupan sebelumnya masih bertahan di zona hijau.
Bersamaan dengan itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga turun 5,28 poin atau 0,84 persen ke posisi 619,95. Data ini menunjukkan tekanan jual masih mendominasi di awal tahun.
Sentimen Eksternal Masih Membayangi Pasar
Pelaku pasar masih mencermati data inflasi Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu. Angka yang lebih tinggi dari ekspektasi memicu spekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan menahan suku bunga lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Akibatnya, aliran modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sektor Saham yang Paling Tertekan
Secara sektoral, tekanan jual terlihat paling dalam pada saham-saham sektor teknologi dan perbankan. Beberapa emiten besar dengan kapitalisasi pasar tinggi tercatat menjadi pemberat utama laju IHSG pada sesi pembukaan.
Meski demikian, volume perdagangan masih tergolong normal. Investor ritel tampak menahan diri dan memilih wait and see sembari menunggu katalis baru dari dalam negeri, seperti data neraca perdagangan Desember yang akan dirilis pekan depan.
Apa yang Perlu Dicermati Investor Hari Ini
Level psikologis 6.150 menjadi support terdekat yang perlu dipertahankan IHSG. Jika indeks mampu bertahan di atas level tersebut, potensi technical rebound masih terbuka pada sesi kedua nanti.
Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus level 6.150, bukan tidak mungkin indeks akan menguji level 6.100 dalam waktu dekat. Analis menyarankan investor untuk mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan data ekonomi global sebagai acuan pengambilan keputusan.