KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Audi memperkenalkan Nuvolari hari ini, sebuah supercar hybrid yang diposisikan sebagai kendaraan produksi terkuat dan tercepat dalam sejarah pabrikan asal Jerman tersebut. Produksi dibatasi hanya 499 unit dengan harga mulai €600.000 atau setara sekitar Rp 11,2 miliar per unit.
Peluncuran ini menimbulkan kejutan tersendiri. Pada 2021, Audi secara tegas menyatakan akan meluncurkan kendaraan listrik saja mulai 2026 dan menghentikan produksi mesin pembakaran pada 2033. Kenyataannya, flagship terbaru mereka justru menggendong mesin V8.
Mesin V8 10.000 RPM dan Tiga Motor Listrik
Jantung pacu Nuvolari adalah mesin V8 4.0 liter biturbo yang menghasilkan 800 hp dan torsi 730 Nm. Mesin ini mampu berputar hingga 10.000 rpm, wilayah yang sebelumnya hanya dikuasai motor balap. Tiga motor listrik aksial-flux masing-masing menyumbang 110 kW, sehingga total output mencapai 1.001 PS atau 987 hp.
Dua motor listrik berpendingin oli berada di as roda depan, menghasilkan torsi hingga 2.150 Nm dan memungkinkan torque vectoring melalui sistem quattro. Satu motor lagi ditempatkan di antara mesin V8 mid-mounted dan transmisi. Baterai lithium-ion hanya memiliki kapasitas kotor 7,3 kWh, cukup untuk akselerasi pendek dan berkendara listrik di perkotaan.
Akselerasi 0-100 Km/jam dalam 2,6 Detik
Akselerasi dari 0 ke 100 km/jam hanya membutuhkan 2,6 detik, dan 0 ke 200 km/jam dalam 6,8 detik. Kecepatan tertinggi menembus 350 km/jam. Namun, angka tersebut hanya tercapai jika suhu baterai di atas 28 derajat Celcius dan tingkat pengisian daya di atas 80 persen.
Sasis Audi Space Frame seluruhnya dilapisi serat karbon, pertama kalinya bagi Audi. Teknologi prepreg autoclave dipinjam dari Formula 1, dan pembalap F1 Audi turut memberi masukan saat pengembangan aerodinamika. Sayap belakang aktif mampu menghasilkan lebih dari 400 kg downforce, dan sistem DRS (Drag Reduction System) bisa diaktifkan langsung dari setir.
Arsitektur Sama dengan Lamborghini Temerario, Harga 2,5 Kali Lipat
Jika spesifikasi Nuvolari terasa familiar, itu karena arsitektur dasarnya sama dengan Lamborghini Temerario. Keduanya menggunakan mesin V8 4.0 liter, tiga motor listrik, dan torsi 730 Nm. Perbedaannya, Temerario menghasilkan 920 PS, sementara Nuvolari mencapai 1.001 PS berkat ekstraksi daya listrik yang lebih agresif.
Pertanyaan besarnya, apa yang membuat Nuvolari dihargai 2,5 kali lipat dari Temerario yang sekitar $300.000? Audi mengandalkan kelangkaan, material serat karbon penuh, serta sentuhan teknologi F1 sebagai pembeda.
Bukan Satu-satunya yang Mangkir dari Janji Listrik
Audi bukan pabrikan pertama yang mundur dari komitmen elektrifikasi. CEO Gernot Döllner menyatakan perusahaan akan menjaga "fleksibilitas penuh" pada powertrain ke depan. Nuvolari, yang tercatat mengonsumsi 14,7 liter per 100 km saat baterai habis, menjadi pernyataan paling tegas dari pembalikan kebijakan tersebut.
Di segmen hybrid supercar, Nuvolari bersaing dengan Lamborghini Temerario (920 PS), Ferrari 296 GTB (830 hp), dan McLaren Artura. Di level tenaga yang lebih tinggi, Ferrari SF90 XX Stradale (1.030 hp) dan Mercedes-AMG One (1.063 hp) menjadi pesaing langsung.
Pengiriman 499 unit Audi Nuvolari akan dimulai pada paruh pertama 2027. Bagi pasar Indonesia, belum ada indikasi apakah unit akan masuk secara resmi atau melalui jalur importir umum.