PANGKALPINANG — Hilirisasi komoditas lokal Indonesia kembali menunjukkan taji di level internasional. PT Salaku Cara Enak Makan Salak (SALAKU), sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang fokus pada inovasi buah salak, terpilih untuk memamerkan produknya dalam ajang bergengsi Food & Hospitality Asia (FHA) 2026 di Singapura.
Langkah ekspansi ini menjadi bukti nyata efektivitas program pemberdayaan yang dijalankan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Melalui inisiatif BRI UMKM EXPORT, pelaku usaha mendapatkan akses panggung global guna memperkenalkan kekayaan olahan pangan nusantara kepada para pemain industri perhotelan dan makanan di Asia.
Pendampingan Strategis dari Kurasi hingga Standar Internasional
Keberhasilan SALAKU menembus pasar Singapura tidak terjadi secara instan. Sebelum bertolak ke FHA 2026, UMKM asal Bekasi ini harus melewati serangkaian proses kurasi ketat dan pendampingan mendalam yang difasilitasi oleh BRI.
Program pemberdayaan tersebut mencakup penguatan fondasi bisnis dari berbagai aspek. Fokus utama diberikan pada peningkatan kualitas produk, pengembangan desain kemasan agar lebih kompetitif, hingga kesiapan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri yang cenderung masif.
Selain teknis produksi, BRI membekali pelaku usaha dengan pelatihan ekspor khusus. Materi yang diberikan mencakup pemahaman mendalam mengenai standar internasional yang berlaku serta strategi penetrasi pasar agar produk lokal mampu bersaing dengan merek-merek global lainnya.
Inovasi Olahan Salak dengan Konsep Zero Waste
SALAKU yang berdiri sejak 2016 mengusung nilai tambah yang unik pada produknya. Mereka tidak hanya menjual camilan, tetapi membawa konsep zero waste dalam mengolah salak. Salah satu produk unggulannya adalah cookies sagu gluten free yang menyasar segmen konsumen sadar kesehatan.
Shelly, pemilik SALAKU, mengungkapkan bahwa perjalanan membangun bisnis ini penuh dengan tantangan besar. Ia harus berjuang meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memberikan edukasi kepada pasar mengenai potensi buah salak yang bisa diolah menjadi berbagai produk premium.
"Usaha ini dibangun melalui proses panjang yang penuh tantangan, mulai dari keterbatasan produksi hingga membangun pemahaman pasar terhadap produk berbasis salak," ungkap Shelly.
Dukungan perbankan melalui program pemberdayaan diharapkan mampu memicu lebih banyak UMKM di daerah, termasuk di Kepulauan Bangka Belitung, untuk mulai melirik potensi ekspor. Transformasi dari sekadar menjual bahan mentah menjadi produk olahan bernilai tinggi menjadi kunci utama dalam memperkuat struktur ekonomi kerakyatan di masa depan.