KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Mike Blair resmi menjalani peran baru sebagai pelatih serangan Timnas Selandia Baru, sebuah posisi langka bagi pelatih asing di dunia rugby All Blacks. Mantan scrum-half Skotlandia itu kini mendampingi Dave Rennie menjelang laga melawan negara asalnya di Murrayfield.
Blair bukan nama biasa di dunia rugby Skotlandia. Dengan 85 caps dan pernah menjabat kapten Timnas Skotlandia, ia kini dipercaya mengisi kursi pelatih serangan All Blacks — posisi yang jarang diisi pelatih asing sepanjang sejarah tim berjuluk Land of the Long White Cloud itu.
Kepindahannya berlangsung cepat. Blair menuntaskan tugasnya di Kobe, Jepang, pada 14 Juni, lalu resmi mulai bekerja bersama Selandia Baru tiga hari berselang, 17 Juni. Sejak itu, ia langsung terjun ke tujuh laga uji coba internasional.
Tujuh Laga Awal: Empat Kemenangan dan Tiga Kekalahan dari Juara Dunia
Debut Blair sebagai pelatih serangan All Blacks dimulai dengan kemenangan atas Prancis, Irlandia, dan Italia pada rangkaian pertandingan musim panas. Namun ujian sesungguhnya datang saat Selandia Baru berhadapan empat kali berturut-turut dengan Afrika Selatan — tiga laga di Afrika dan satu di Baltimore, Amerika Serikat.
Dari rangkaian itu, All Blacks menang sekali dan kalah tiga kali. Kemenangan pembuka di Johannesburg berlangsung dramatis: lima try berbanding satu, sebuah pertunjukan yang disebut Blair sebagai tontonan memukau.
Kembali ke Murrayfield dengan Jersey Hitam, Bukan Biru
November nanti menjadi momen yang tak biasa bagi Blair. Ia akan kembali ke Skotlandia, tetapi kali ini bukan sebagai bagian dari tim tuan rumah. Laga Skotlandia versus Selandia Baru di Murrayfield akan ia jalani dari sisi yang berseberangan dengan negara kelahirannya.
"Saya tidak tahu bagaimana rasanya," kata Blair, seperti dikutip dari BBC Scotland Rugby Podcast. "Saya akan ceritakan setelah kita di sana, tapi pasti akan terasa aneh dan keren. Saya menantikannya."
Rasa Hormat Baru untuk Permainan Menyerang Skotlandia
Blair menyebut ada perbedaan besar antara cara pandang pemain All Blacks generasi sekarang terhadap Skotlandia dibandingkan saat ia masih aktif bermain. Ia mengaku pernah melihat wawancara seorang pemain All Blacks yang bahkan tidak bisa menyebut nama-nama pemain Skotlandia.
"Sekarang Anda bicara dengan Jordie dan dia menyebut semua nama di barisan belakang Skotlandia," ujar Blair. "Rasa hormat terhadap permainan menyerang Skotlandia sangat besar."
Ia kini menangani sejumlah pemain belakang paling ikonik generasi ini: Jordie Barrett, Beauden Barrett, Will Jordan, dan Damian McKenzie. Menurut Blair, mereka semua menyadari ancaman yang dibawa Skotlandia saat ini.
Dave Rennie dan Kepercayaan yang Mengubah Hidup Blair
Hubungan Blair dan Rennie terbangun sejak lama. Keduanya pernah bekerja sama di Glasgow Warriors, lalu bertemu lagi di Kobe, Jepang, selama tiga tahun. Ketika Rennie melamar posisi pelatih kepala Selandia Baru, ia lebih dulu bertanya kepada Blair apakah ia tertarik ikut bergabung.
Blair saat itu sedang berada di Edinburgh. Ia terbangun pukul tujuh pagi, mengecek ponsel, dan mengetahui Rennie mendapat pekerjaan tersebut. Ia langsung mengirim pesan ucapan selamat, lalu menunggu kabar soal kontraknya sendiri.
"Ada jeda sehari karena perbedaan waktu. Saya seperti menggantung," kenang Blair.
Rennie akhirnya menghubunginya. Menurut Blair, sosok Rennie tidak mengatur secara berlebihan. Ia memberi pendapat saat diperlukan, tetapi selebihnya mempercayakan pekerjaan kepada staf yang telah ia pilih.
"Dia mempertaruhkan lehernya untuk saya, dan dia tidak akan melakukannya kalau tidak yakin saya bisa melakukan pekerjaan dengan baik," kata Blair.
Standar Pemain All Blacks yang Membuat Blair Harus Selalu Waspada
Blair mengakui sempat merasa cemas dengan kualitas pemain yang ia tangani. Di Jepang atau Edinburgh, ia biasa memaparkan rencana dan mendapat respons sederhana. Di Selandia Baru, para pemain bertanya balik: mengapa harus begini, bukankah lebih baik begitu.
"Itu fantastis, tapi di saat yang sama saya sadar harus selalu siap, karena kalau tidak, seseorang akan membongkar kelemahan saya," ujarnya.
Blair menggantikan posisi yang sebelumnya dipegang Scott Robertson, periode yang dianggap kurang memuaskan bagi All Blacks karena kehilangan sebagian identitas permainan mereka. Kini, dengan Rennie di kursi pelatih kepala dan Blair mengurus serangan, Selandia Baru berusaha membangun kembali ketajaman permainan terbuka mereka.