Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Bangka menangani 345 titik kebakaran yang membakar 610,95 hektare kawasan hutan selama musim kemarau. Ketua Satgas Karhutla Bangka Ahmad Suherman menyatakan luas kebakaran terus meningkat karena laporan dari warga masuk setiap hari ke tim pemadam kebakaran. Sebagian besar titik api muncul akibat kelalaian oknum masyarakat yang sengaja membakar lahan.
SUNGAILIAT — Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mencatat 345 titik kebakaran yang tersebar di sejumlah wilayah kecamatan. Ratusan titik api itu membakar kawasan hutan seluas 610,95 hektare. Luas kebakaran cenderung meningkat dibandingkan periode sebelumnya karena tim Damkar menerima laporan kebakaran dari masyarakat hampir setiap hari.
Ketua Satgas Karhutla Bangka Ahmad Suherman menyampaikan data tersebut di Sungailiat, Rabu. Ia menyebut penanganan tidak hanya berupa pemadaman api oleh tim Damkar dan pihak lain, tetapi juga koordinasi lintas instansi agar kebakaran tidak meluas ke kawasan hutan lain.
Rumah Warga Ikut Ludes Terbakar akibat Api Menjalar
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak lingkungan dan menimbulkan polusi udara akibat asap. Satgas menerima laporan ada rumah warga yang ludes terbakar karena api menjalar dari kebakaran hutan yang lokasinya tidak jauh dari rumah korban.
"Kasus kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengakibatkan kerusakan lingkungan di kawasan itu dan polusi udara akibat asap," kata Ahmad Suherman.
Ia menambahkan pihaknya juga melakukan upaya koordinasi dengan semua pihak supaya kasus ini tidak semakin meluas membakar hutan.
Kelalaian Oknum Warga Jadi Penyebab Dominan
Dari kasus karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah kecamatan di Kabupaten Bangka, sebagian besar dipicu kelalaian oknum masyarakat. Titik api muncul di kawasan Lintas Timur Sungailiat, kawasan hutan Pantai Matras Sungailiat, dan sejumlah tempat lain.
Menurut Ahmad Suherman, penyebabnya beragam, mulai dari lahan yang sengaja dibakar hingga alasan lain yang dilakukan warga.
"Dalam kasus karhutla, kami tidak hanya melakukan pemadaman api oleh tim Damkar dan pihak lain, tetapi juga melakukan upaya koordinasi dengan semua pihak supaya kasus ini tidak semakin meluas membakar hutan," ujar dia.
Satgas Libatkan TNI, Polri, hingga BUMN
Penanganan dan pencegahan karhutla di Kabupaten Bangka dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Kondisi musim kemarau belum diketahui sampai kapan berakhir, sehingga kewaspadaan tetap dijaga.
Tim Satgas Karhutla melibatkan TNI, Polri, Damkar, Satpol PP, lembaga BUMN, serta lembaga dan organisasi lain. Ahmad Suherman menilai keterlibatan itu sudah cukup maksimal di lapangan untuk melakukan penanganan dan pencegahan karhutla.
"Tim Satgas Karhutla yang melibatkan TNI, Polri, Damkar, Satpol PP, lembaga BUMN serta lembaga dan organisasi lain sudah cukup maksimal di lapangan melakukan penanganan dan pencegahan karhutla," kata dia.
Satgas mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat kemarau panjang. Laporan titik api dari masyarakat tetap dibutuhkan agar pemadaman bisa dilakukan lebih cepat sebelum api menjalar ke permukiman.