PANGKALPINANG — Kepala DPKP Provinsi Kepulauan Babel, Kurniawan, menyebut kelebihan produksi beras Bangka Selatan menjadi penopang pasokan pangan wilayah lain di Pulau Bangka. Pasokan itu menyasar Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, dan Kota Pangkalpinang.
"Kelebihan produksi beras di Bangka Selatan ini didistribusikan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah dan Kota Pangkalpinang," kata Kurniawan di Pangkalpinang, Jumat.
Produksi beras Bangka Selatan pada 2025 mencapai 26.507 ton, setara 29.483 ton Gabah Kering Giling. Angka itu jauh di atas kebutuhan beras masyarakat Bangka Selatan pada 2026 yang diproyeksikan 19.335 ton.
Selisih keduanya menyisakan surplus sekitar 10 ribu ton lebih. Kurniawan memastikan Bangka Selatan turut memasok kebutuhan beras ke wilayah lain, termasuk Kota Pangkalpinang.
"Ya, Bangka Selatan turut memasok kebutuhan beras ke wilayah lainnya, termasuk Kota Pangkalpinang," ujarnya.
DPKP Kepulauan Babel menargetkan capaian swasembada pangan di Bangka Selatan bisa direplikasi ke kabupaten lain. Strategi yang disiapkan mencakup peningkatan produksi dan nilai tambah, penguatan infrastruktur pertanian, peningkatan kualitas sumber daya petani, serta pengendalian alih fungsi lahan.
"Kami optimistis melalui strategi ini, swasembada pangan di kabupaten dan kota lainnya ini tercapai yang berdampak terhadap kesejahteraan petani," katanya.
Kurniawan membeberkan empat tantangan utama dalam percepatan swasembada pangan di seluruh wilayah Kepulauan Babel. Pertama, menurunnya lahan pertanian produktif akibat alih fungsi lahan yang terus terjadi di berbagai daerah.
Kedua, ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah. Sebagian besar kabupaten lain masih mengandalkan pasokan beras dari luar Babel.
Ketiga, keterbatasan sumber daya manusia bidang pertanian, baik dari sisi jumlah maupun kapasitas petani dan tenaga penyuluh.
Keempat, dampak perubahan cuaca dan iklim yang mempengaruhi pola tanam, produktivitas, dan risiko gagal panen di daerah ini.
"Keterbatasan SDM bidang pertanian, baik dari sisi jumlah maupun kapasitas petani dan tenaga penyuluh dan dampak perubahan cuaca dan iklim, yang mempengaruhi pola tanam, produktivitas, dan risiko gagal panen di daerah ini," ujarnya.