SUNGAILIAT — Aktivitas di sekitar Smelter PT ATD Makmur Mandiri, Jelitik, Kabupaten Bangka, kembali menjadi sorotan warga. Sejumlah warga menyebut kendaraan berat dan suara mesin terdengar keluar-masuk lokasi pada malam hari, sementara pada siang hari kawasan itu relatif lengang.
Keterangan warga menyebut aktivitas tersebut mulai terdengar sekitar pukul 20.00 WIB dan berlangsung hingga dini hari. Pola itu disebut sudah berlangsung beberapa minggu terakhir.
"Kalau siang sepi, kayak tidak ada aktivitas. Tapi malam truk keluar masuk, suara mesin kedengaran. Sudah beberapa minggu ini polanya begitu," ujar seorang warga Jelitik yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Pertanyaan warga tidak berhenti pada waktu operasi. Sejumlah sumber menduga ada material timah yang masuk ke lokasi pada malam hari, namun asal-usulnya belum dapat dipastikan secara independen.
Salah satu sumber tertutup menyebut informasi mengenai sekitar 75 ton material yang disebut telah diekspor setelah melalui proses peleburan di ATD. Sumber tersebut juga menduga sebagian material berasal dari sumber yang tidak memiliki keterkaitan dengan IUP yang sah.
Klaim itu masih memerlukan verifikasi dan pembuktian oleh aparat berwenang. Jika benar terdapat kegiatan pengolahan dan pengiriman logam timah, pertanyaan berikutnya menyangkut kesesuaian rantai pasok dan prosedur perdagangan dengan ketentuan yang berlaku.
Nama PT ATD Makmur Mandiri sebelumnya pernah muncul dalam rangkaian penanganan perkara tata kelola timah. Pada 10 Februari 2025, Kejaksaan Agung diketahui melakukan pemeriksaan terkait perkara PT Refined Bangka Tin.
Direktur PT ATD berinisial LS disebut diperiksa sebagai saksi dalam perkara tersebut. Di tengah proses hukum kasus tata niaga timah yang menyeret banyak perusahaan dan pihak, warga mempertanyakan status smelter ATD.
Di tingkat masyarakat, muncul julukan "smelter misterius". Bukan karena keberadaan fisiknya tidak diketahui, tetapi karena warga mempertanyakan mengapa aktivitasnya masih menjadi tanda tanya.
Sorotan warga juga mengarah pada tenaga kerja di lokasi tersebut. Sejumlah warga menyebut banyak pekerja berasal dari luar Bangka, bahkan ada informasi yang menyebut sebagian berasal dari Lampung.
"Pekerjanya banyak dari luar, katanya dari Lampung. Orang lokal jarang yang diajak kerja di situ. Makanya kami tidak tahu persis apa yang dilebur di dalam," ujar warga.
Keterangan ini masih membutuhkan konfirmasi dari perusahaan dan verifikasi lapangan. Minimnya informasi mengenai aktivitas perusahaan disebut menambah ruang spekulasi di tengah masyarakat.
Konfirmasi telah diupayakan kepada manajemen PT ATD Makmur Mandiri untuk memastikan informasi tersebut berimbang. Pertanyaan yang diajukan mencakup status dan legalitas operasional, aktivitas malam hari, asal bahan baku, tenaga kerja, serta dugaan pengiriman atau ekspor produk timah.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen PT ATD Makmur Mandiri belum memberikan jawaban. Pemilik yang dikenal dengan panggilan Amen juga telah beberapa kali dikonfirmasi untuk memberikan hak jawab, namun nomor telepon yang digunakan untuk melakukan konfirmasi kemudian diblokir.
Sikap tersebut membuat sejumlah pertanyaan publik tetap menggantung.
Di tengah kasus besar tata niaga timah yang sedang menjadi perhatian publik, aktivitas sebuah smelter pada malam hari dinilai tidak semestinya hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut warga.
Warga berharap aparat penegak hukum dan inspektur tambang turun memeriksa langsung ke lokasi. Pembuktian independen diperlukan untuk menjawab pertanyaan soal legalitas operasional, asal bahan baku, hingga tujuan pengiriman material yang diproses.