KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Nike kembali merilis ikon iklan Piala Dunia, kali ini dengan pendekatan yang sangat berbeda. Alih-alih satu narasi kohesif seperti iklan Brasil di bandara tahun 1998, 'Rip the Script' justru membanjiri penonton dengan segudang cameo dari berbagai generasi, olahraga lain, hingga selebritas.
Iklan dibuka dengan laga Perancis vs Spanyol di stadion CGI. Kylian Mbappe mencetak overhead kick spektakuler, namun sang manajer—yang ternyata sutradara iklan—berteriak "NO!" karena pemain tidak mengikuti naskah. Sutradara menuntut Mbappe hanya menyundul bola biasa tanpa improvisasi.
Pemain lain seperti Bruno Fernandes, Vinicius Jr, dan Jamal Musiala ikut protes karena syuting terlalu lama. Nico Williams mulai menggiring bola liar, Vinicius menghajar petugas keamanan, dan kekacauan meluas ke berbagai set produksi.
Kekacauan membawa pemain ke set iklan 'Croydon 1995'—referensi tendangan kung fu Eric Cantona. Cantona sendiri muncul di perahu nelayan mengulangi monolog burung camar. Adegan berlanjut ke ruang rapat Cristiano Ronaldo dan LeBron James, lalu ke lokasi syuting film aksi di mana Ronaldo mengejar bola yang meledak.
Virgil van Dijk berteriak "why won't you just die" (terpotong karena kata kasar), Cole Palmer muncul sekilas, dan Ted Lasso bertanya apa yang sedang difilmkan. Semua kembali ke lapangan hijau, Vinicius melakukan rabona, dan Erling Haaland yang sejak awal menolak bergabung akhirnya melompat tinggi mencetak bicycle kick, lalu mencium kamera. Tagline: "rip the script".
Iklan Brasil di bandara tahun 1998 cukup disebut satu kata—"airport"—dan semua orang langsung ingat. Iklan 'Rip the Script' butuh lebih dari 400 kata untuk dijelaskan. Terlalu banyak cameo membuatnya sulit menghasilkan satu gambar yang melekat di memori.
Kritik mirip dengan yang dialami Space Jam 2: dirancang untuk pemirsa dengan rentang perhatian 1,5 detik. "Jangan suka bagian ini? Tenang, sebentar lagi ada hal lain," tulis analis. Meski menghibur, pendekatan ini berpotensi membatasi warisan jangka panjang iklan tersebut.
Terlepas dari kritik, iklan ini tetap sukses membangkitkan antusiasme menuju Piala Dunia 2026. Dengan beragam referensi—dari sepak bola klasik, film, hingga komedi—Nike memastikan setiap penonton menemukan momen favoritnya. Pertanyaannya: apakah cukup kuat untuk dikenang satu dekade lagi? Jawabannya masih abu-abu.