Banyak warga mempertanyakan absennya penyampaian belasungkawa resmi ataupun karangan bunga atas wafatnya Herry Setyobudi. Sorotan ini mencuat di tengah dinamika politik dan persepsi publik yang kerap mengaitkan gestur formal dengan tingkat empati seseorang.
Ada Sisi Lain yang Tak Diketahui Publik
Di balik riuh tafsir itu, terdapat sisi yang tidak seluruhnya diketahui publik. Dalam tata pemerintahan, ucapan resmi, kehadiran institusi, hingga pengiriman karangan bunga tidak hanya bicara soal empati. Semua itu menyangkut aturan, etika jabatan, dan administrasi negara.
“Bukan berarti tidak berempati. Kadang jabatan membuat seseorang harus berhati-hati antara rasa pribadi dan posisi resmi,” ujar seorang sumber internal yang enggan disebutkan namanya.
Empati Personal vs Langkah Formal Pemerintahan
Pihak terdekat menggambarkan bahwa secara pribadi dan nurani, rasa kehilangan dan belasungkawa tetap ditunjukkan. Terlebih dalam nilai kemanusiaan dan ajaran Islam, duka seseorang adalah duka bersama.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tidak semua sikap yang tampak di permukaan mencerminkan isi hati. Ada batas antara empati personal dan langkah formal pemerintahan yang sering kali tidak dipahami masyarakat luas.
Pada akhirnya, duka tetaplah duka. Di atas segala polemik, doa terbaik tetap mengalir untuk almarhum Herry Setyobudi, keluarga yang ditinggalkan, serta harapan agar suasana tetap teduh tanpa saling menghakimi. (OB)