PT PLN (Persero) resmi menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dengan pengelola PSEL Kota Bekasi, Rabu (26/8). Melalui kerja sama ini, listrik berkapasitas 27,4 MW dari pengolahan 500 ribu ton sampah per tahun akan dialirkan ke warga Bekasi. Proyek senilai Rp3 triliun ini menargetkan 55 ribu rumah tangga teraliri listrik dan memangkas emisi karbon hingga 640 ribu ton per tahun.
karbon hingga 640 ribu ton per tahun. ISI:PANGKALPINANG — Komitmen pemerintah mengubah tumpukan sampah menjadi energi listrik kembali menemukan titik terang. PT PLN (Persero) memastikan kesiapannya menyerap dan mendistribusikan listrik dari Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi, Jawa Barat.
Kesiapan itu tertuang dalam penandatanganan Sponsors Agreement dan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) pada agenda Peresmian Pembangunan PSEL Kota Bekasi, Rabu (26/8). Listrik yang dihasilkan fasilitas ini tidak akan dijual bebas, melainkan didedikasikan khusus untuk warga Bekasi.
Listrik dari Sampah Kembali ke Warga Bekasi
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan kebutuhan listrik di Bekasi cukup tinggi. Energi yang dihasilkan PSEL akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
"Kebutuhan listrik di Bekasi cukup tinggi. Maka, kita mendedikasikan listrik dari PSEL Bekasi ini untuk masyarakat Bekasi. Jadi, sampah Kota Bekasi masuk ke sini (PSEL), kemudian listrik yang dihasilkan kita pasok kembali ke Kota Bekasi," ujar Darmawan dalam keterangan yang diterima di Pangkalpinang, Jumat.
Darmawan menekankan proyek ini bukan sekadar pembangkit listrik. Ia menyebut produk utama PSEL adalah lingkungan yang bersih, sementara listrik hanyalah produk sampingan yang turut dihasilkan.
Danantara dan Pemerintah Percepat Proyek 11 Tahun Mandek
Proyek ini melibatkan kolaborasi besar, termasuk Danantara Indonesia sebagai investor. Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyebut peresmian ini menandai hadirnya solusi nyata untuk menjawab darurat sampah di Indonesia.
"PSEL Kota Bekasi diharapkan dapat menciptakan nilai lingkungan, energi, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Inisiatif ini diharapkan menghasilkan hampir 1.000 lapangan kerja hijau dan menyediakan energi bersih bagi puluhan ribu rumah tangga," kata Pandu.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan pengembangan proyek waste to energy selama ini berjalan lambat akibat regulasi yang rumit. Ia mencontohkan, dalam 11 tahun terakhir hanya dua proyek serupa yang berjalan, itupun dengan status tidak menentu.
"Kalau sampah saja kita tidak bisa urus, bagaimana kita mengurus yang lebih besar. Itu perintah Pak Presiden. Aturan mengenai pengelolaan sampah ini, waste to energy, ratusan lebih aturannya. Oleh karena itu, 11 tahun hanya ada dua (proyek). Satu tidak jalan, satu hidup mati-hidup mati. Hampir tidak bisa jalan karena rumit dan ruwet. Nah ini kita rapihkan. Dari sini tinggal tiga (aturan)," tegas Zulkifli.
Kapasitas 500 Ribu Ton Sampah dan Lapangan Kerja Baru
PSEL Kota Bekasi diproyeksikan mampu menangani lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 70 persen timbulan sampah terolah di Kota Bekasi.
Dari sisi teknis, fasilitas berkapasitas netto 27,4 MW ini mampu menghasilkan sekitar 223.584 megawatt hour (MWh) listrik per tahun. Dengan asumsi konsumsi rata-rata pelanggan rumah tangga berdaya 450 volt ampere (VA), angka tersebut setara dengan kebutuhan listrik sekitar 55 ribu rumah tangga.
Selain energi, proyek ini berdampak pada pengurangan kebutuhan lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) hingga 90 persen. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berharap pembangunan fasilitas ini berjalan cepat dan mampu mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
"Untuk itu, semoga apa yang dicanangkan hari ini bisa berjalan dengan cepat dan mampu merespons apa yang menjadi kebutuhan masyarakat," ujar Dedi.