KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Berdasarkan data pasar pada pukul 09.00 WIB, rupiah berhasil terapresiasi 35 poin dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menuturkan bahwa sentimen pasar global sedang condong ke arah risk-on menyusul ekspektasi sikap dovish bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
"Pelemahan data tersebut memicu ekspektasi bahwa The Fed akan bernada dovish pada risalah pertemuan FOMC pekan ini," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/8).
Mayoritas Mata Uang Asia dan Negara Maju Kompak Menguat
Penguatan rupiah tidak berdiri sendiri. Hampir seluruh mata uang di kawasan Asia tercatat menghijau terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini. Kondisi serupa juga terjadi di negara maju, menandakan pelemahan dolar AS yang cukup merata.
- Yuan China menguat 0,06 persen dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,16 persen.
- Yen Jepang naik 0,15 persen, sedangkan dolar Singapura menguat tipis 0,04 persen.
- Won Korea Selatan terapresiasi 0,02 persen dan dolar Hong Kong naik 0,01 persen.
- Peso Filipina menjadi satu-satunya yang melemah, turun 0,18 persen.
Sementara itu, di kelompok mata uang utama negara maju, euro Eropa menguat 0,08 persen terhadap dolar AS. Pound sterling Inggris naik 0,07 persen, dolar Australia terapresiasi 0,11 persen, dan franc Swiss menguat 0,17 persen. Dolar Kanada juga mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,05 persen.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada hari ini akan berada dalam rentang yang cukup lebar, mengingat pasar masih menunggu sinyal kebijakan moneter dari risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan rilis pekan ini. Para pelaku pasar akan mencermati nada kebijakan The Fed untuk menentukan arah pergerakan dolar AS selanjutnya.
Sepanjang sesi perdagangan Senin ini, analis memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif di level Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS. Level support dan resistance tersebut dinilai menjadi titik kunci yang menentukan kelanjutan penguatan rupiah dalam jangka pendek.
Investasi mengandung risiko.