PANGKALPINANG — Dua titik kebakaran hutan dan lahan di Hutan Lindung Desa Mapur, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, akhirnya berhasil dijinakkan setelah personel Manggala Agni berjibaku selama dua hari. Luas lahan yang terbakar mencapai 2,5 hektare dengan tipe kebakaran permukaan dan bawah, mengingat area tersebut merupakan lahan gambut yang rawan api menyebar di dalam tanah.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, menyatakan timnya langsung merespons informasi kebakaran dan melaksanakan pemadaman darat untuk mencegah eskalasi yang lebih besar. "Tim Manggala Agni mendapatkan informasi, langsung merespon dan melaksanakan pemadaman darat di lokasi Desa Mapur tersebut, untuk mencegah kebakaran yang lebih besar di daerah itu," ujarnya di Pangkalpinang, Minggu.
Pengerahan Satu Tim dari Daops Banyuasin
Untuk memperkuat operasi pemadaman, satu tim personel dari Daops Manggala Agni Banyuasin, Sumatera Selatan, diterjunkan ke lokasi. Mereka membawa satu unit mobil angkut personil, satu unit mobil air tendom, satu unit collapsible tank, dua unit pompa jinjing, serta peralatan tangan lainnya.
Menurut Ferdian, permintaan bantuan ini datang langsung dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di tengah kondisi musim kemarau ekstrem yang sedang melanda wilayah tersebut. "Atas permintaan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kami mengerahkan satu tim untuk membantu pemadaman karhutla selama musim kemarau ekstrim ini," kata Ferdian.
Bangka Jadi Salah Satu Penyumbang Asap di Sumatera
Ferdian mengungkapkan bahwa eskalasi kebakaran hutan dan lahan di Bangka belakangan ini mengalami kenaikan signifikan. Hal itu terkonfirmasi dari citra satelit yang menunjukkan wilayah Bangka menjadi salah satu penghasil asap di Pulau Sumatera. "Saat ini kondisi eskalasi kenaikan karhutla juga terjadi di Bangka dan beberapa waktu lalu terlihat dari citra satelit, salah satu penghasil asap Sumatera juga dari Bangka," jelasnya.
Kondisi ini diperparah dengan fenomena El Nino yang memperkuat musim kemarau, membuat lahan gambut dan semak kering sangat mudah terbakar. Kolaborasi antara Manggala Agni dan Dinas LHK Kabupaten Bangka sebenarnya sudah berjalan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk melalui kegiatan patroli serta pembentukan dan pembinaan Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa-desa rawan kebakaran.
Imbauan untuk Warga: Jangan Membakar Lahan
Di tengah tingginya risiko kebakaran, Ferdian mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan atau kebun dengan cara membakar. Ia juga meminta warga berhati-hati saat membakar sampah di tempat rawan dan memastikan tidak meninggalkan api yang masih menyala. "Jangan sampai perilaku kita merugikan dan merusak alam ini," tegasnya.
Operasi pemadaman di Hutan Lindung Mapur sendiri masih terus berlangsung untuk memastikan tidak ada titik api baru yang muncul, terutama di lapisan gambut yang berpotensi menyimpan bara dalam waktu lama.