BANGKA TENGAH — Komoditas lada putih Bangka Belitung kembali membuktikan daya saingnya di pasar internasional. Barantin mencatat volume ekspor hingga Juni 2026 telah mencapai 919,5 ton dengan nilai sekitar Rp 148,9 miliar, melonjak 25,75 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang berada di angka 731,2 ton.
Peningkatan ini menjadi sinyal positif bagi ribuan petani lada di daerah penghasil Muntok White Pepper tersebut, terutama setelah pelepasan ekspor 8,2 ton biji lada putih senilai Rp 1,21 miliar ke Belanda melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada Sabtu (pekan lalu).
Pasar Tujuan Ekspor dan Nilai Ekonomi Sepanjang 2025
Data Barantin menunjukkan total ekspor lada putih Bangka Belitung sepanjang tahun 2025 mencapai 1,37 ribu ton melalui 184 kali pengiriman dengan nilai sekitar Rp 180 miliar. Negara tujuan utama pengiriman meliputi Vietnam, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Taiwan.
Plt Deputi Karantina Tumbuhan Barantin, Dian S.R. Kusumastuti, menegaskan bahwa tugas bersama saat ini adalah memastikan kualitas, standar, dan ketertelusuran produk tetap terpenuhi. Hal ini dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap lada asal Bangka Belitung.
Penguatan Ekosistem Hulu ke Hilir Jadi Kunci
Dian menyebut peningkatan volume ekspor tidak serta-merta berjalan tanpa tantangan. Menurutnya, penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir menjadi syarat utama agar tren positif ini berkelanjutan, mulai dari kualitas produksi di tingkat petani, pemenuhan standar, hingga kesiapan pelaku usaha memenuhi persyaratan negara tujuan.
“Kita terus mendorong lada Bangka Belitung ini semakin memperluas pasar ekspor di pasar global,” ujar Dian saat menghadiri peluncuran Holding UMKM dan pelepasan ekspor lada putih di Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah.
Peran Barantin dalam Pendampingan Petani dan UMKM
Barantin berkomitmen mendukung pelaku usaha melalui edukasi dan pendampingan teknis. Dukungan tersebut mencakup pemenuhan persyaratan teknis, sistem ketertelusuran produk, serta pemeriksaan dan tindakan karantina pada tahap pelalulintasan dan ekspor.
“Tugas kita bersama adalah memastikan kualitas, standar, dan ketertelusurannya terpenuhi sehingga kepercayaan pasar terhadap lada Bangka semakin kuat,” tegasnya.
Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan nilai tambah yang diterima petani dan pelaku UMKM di daerah dapat meningkat seiring meluasnya pangsa pasar internasional.