PANGKALPINANG — Sebanyak 3,168 juta tablet tambah darah mulai dialokasikan ke puskesmas dan sekolah menengah atas di tujuh kabupaten/kota di Kepulauan Bangka Belitung. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah provinsi memperbaiki status gizi kelompok rentan, terutama remaja putri yang sudah mengalami menstruasi dan ibu hamil.
Sasaran: Ibu Hamil, Nifas, dan Remaja Putri
Plt Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Babel Megawati Soeroso menyatakan bahwa tablet tambah darah diberikan secara rutin satu kali dalam seminggu. "Pendistribusian tablet tambah darah ini untuk mencegah anemia pada ibu hamil, melahirkan, dan remaja putri," katanya di Pangkalpinang, Sabtu.
Ia menambahkan bahwa kelompok remaja putri yang telah menstruasi menjadi prioritas karena anemia saat hamil dapat menyebabkan kekurangan gizi pada bayi dan berujung stunting. "Kita harus mencegah anemia ini khususnya remaja putri yang telah menstruasi, karena pada saat hamil anemia tentunya akan kekurangan gizi dan bayinya juga akan kekurangan gizi," ujarnya.
Rincian Distribusi per Kabupaten
Distribusi terbesar dialokasikan ke Kabupaten Bangka Tengah sebanyak 1.259.200 tablet, disusul Kabupaten Bangka 818.000 tablet, dan Bangka Barat 621.300 tablet. Berikut rincian lengkap dari tujuh daerah:
- Bangka Tengah: 1.259.200 tablet
- Bangka: 818.000 tablet
- Bangka Barat: 621.300 tablet
- Bangka Selatan: 100.300 tablet
- Belitung: 200.300 tablet
- Belitung Timur: 73.500 tablet
- Kota Pangkalpinang: 400 tablet
Penyaluran dilakukan melalui puskesmas dan sekolah menengah atas di masing-masing wilayah. Kota Pangkalpinang menerima 400 tablet, jumlah paling kecil karena cakupan sasaran yang lebih terbatas.
Pencegahan Stunting dan Kematian Ibu
Megawati menegaskan bahwa program ini menjadi salah satu intervensi strategis untuk menurunkan prevalensi stunting dan mencegah kematian ibu serta bayi akibat gizi buruk. Tablet tambah darah didistribusikan kepada ibu hamil, terapi anemia ringan ibu hamil, ibu nifas, dan remaja putri. "Kita harus mencegah anemia ini," kata Megawati, seraya menambahkan bahwa dampak buruk anemia tidak hanya pada ibu tetapi juga pada pertumbuhan janin dan balita.
Distribusi serentak dimulai pada 23 Juli 2026 dan direncanakan berlangsung secara berkala sepanjang tahun anggaran. Pemerintah provinsi berharap program ini dapat menjangkau seluruh sasaran di kepulauan tersebut, mengingat karakteristik geografis yang tersebar antar pulau.