BANGKA BARAT — Kontes durian yang digelar Kamis ini diikuti 52 peserta dari seluruh kabupaten/kota di Kepulauan Bangka Belitung. Ajang tersebut bukan sekadar lomba rasa, melainkan bagian dari upaya sistematis Pemprov untuk mendata dan melindungi pohon induk durian lokal yang potensial menjadi varietas unggul nasional.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Babel, Kurniawan, mengatakan masih banyak durian lokal di pelosok desa yang belum mendapat kesempatan untuk dikenal luas. “Melalui kontes ini kita upayakan agar semakin dikenal sehingga nilai jual meningkat,” katanya di Bangka Barat.
Dua Varietas Unggul Nasional Sengaja Tidak Diikutkan
Panitia memutuskan untuk tidak mengikutsertakan durian Namlung dan Klamunot—dua varietas yang sudah berstatus unggul nasional asal Babel—dalam kontes kali ini. Keputusan itu diambil agar varietas-varietas baru dari daerah lain bisa muncul sebagai juara dan mendapatkan perhatian pemerintah.
“Kami beri kesempatan varietas baru muncul,” ujar Kurniawan. Lima durian terbaik yang terpilih nantinya akan didaftarkan ke Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura untuk mendapatkan pengakuan sebagai varietas unggul nasional.
Juri dari BRIN dan Praktisi Nasional
Proses penjurian dilakukan secara objektif oleh tim independen yang terdiri dari akademisi, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), praktisi durian nasional, serta ahli pengawas benih tanaman dari UPTD Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (PSMB).
Setelah kontes selesai, durian yang masuk nominasi akan menjalani observasi lebih lanjut. Pohon induk pemenang kontes juga akan dilindungi hak kekayaan intelektualnya agar tidak diklaim pihak lain atau daerah tetangga.
Mencegah Kepunahan Plasma Nutfah Lokal
Kurniawan menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk keseriusan Pemprov Babel bersama kabupaten untuk menyelamatkan kekayaan plasma nutfah buah-buahan lokal. “Hal ini penting dilakukan agar potensi ekonomi dari sektor perkebunan tidak punah atau diklaim daerah lain,” katanya.
Selain aspek konservasi, kontes durian yang rutin digelar di desa-desa sentra penghasil durian juga diharapkan bisa mendorong pengembangan agrowisata. Dengan begitu, dampak ekonominya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga masyarakat sekitar melalui sektor pariwisata.
Pemprov Babel sebelumnya telah melakukan identifikasi dan eksplorasi pohon induk durian lokal baru yang selama ini belum terekspos. Langkah ini menjadi fondasi awal sebelum varietas-varietas tersebut didaftarkan ke tingkat nasional.