Pencarian

Harga RAM Melonjak, Ponsel Android Murah di Bawah Rp 6,5 Juta Makin Langka di 2026

Rabu, 08 Juli 2026 • 03:49:31 WIB
Harga RAM Melonjak, Ponsel Android Murah di Bawah Rp 6,5 Juta Makin Langka di 2026
Kenaikan harga RAM menyebabkan ponsel Android murah di bawah Rp 6,5 juta semakin sulit ditemukan pada 2026.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kenaikan harga komponen RAM yang disebut sebagai 'RAMageddon' mulai mengubah peta pasar ponsel Android secara fundamental. Laporan dari firma riset Omdia mengungkapkan bahwa biaya memori kini menjadi beban terberat dalam produksi ponsel kelas menengah ke bawah, terutama untuk perangkat yang dibanderol di bawah US$400 (sekitar Rp 6,6 juta).

RAM Kini ‘Makan’ 64% Biaya Produksi Ponsel Murah

Menurut data Omdia yang dirilis baru-baru ini, untuk ponsel dengan harga jual US$99 atau kurang, biaya RAM dan penyimpanan internal telah melonjak hingga 64% dari total biaya material. Sementara itu, untuk segmen harga US$100 hingga US$400, porsinya hampir sama besar, yakni mencapai 59%.

Yang lebih mengkhawatirkan, angka ini meningkat drastis dibandingkan kuartal III-2025. Omdia mencatat biaya memori di setiap segmen harga praktis berlipat ganda dalam beberapa bulan terakhir.

Pasar Ponsel di Bawah Rp 6,6 Juta Anjlok 22%

Dampaknya sudah mulai terlihat di pasar. Omdia memperkirakan akan terjadi penurunan pengiriman unit hingga 22% year-on-year untuk ponsel di bawah US$400 pada tahun ini. Produsen ponsel berada di persimpangan jalan: menaikkan harga jual atau menghentikan produksi model-model murah tersebut.

“Kenaikan harga ritel berpotensi menekan permintaan secara signifikan, karena konsumen di segmen bawah sangat sensitif terhadap harga,” tulis Omdia dalam laporannya. “Produk kelas bawah sudah mulai tidak menguntungkan dan berisiko tinggi kehilangan peminat.”

Vendor Pilih ‘Turun Kelas’ Spek Demi Menekan Biaya

Alih-alih menaikkan harga secara agresif, beberapa vendor memilih strategi lain: menurunkan spesifikasi perangkat. Omdia menyebutkan praktik downgrade ini akan semakin marak, termasuk penggunaan panel layar yang lebih murah, konfigurasi kamera yang lebih fleksibel dengan jumlah sensor lebih sedikit, hingga mempertahankan chipset generasi lama.

Motorola menjadi salah satu contoh nyata. Di tahun ini, sebagian besar lini Moto G dan Motorola Razr disebut masih mengandalkan chipset yang sama dengan pendahulunya. Strategi ini membuat ponsel lawas justru terlihat lebih menarik dari segi nilai dibandingkan model anyar yang speknya dipangkas.

Nothing Phone (4b) yang baru saja dirilis juga menjadi bukti lain. Perangkat tersebut diposisikan dengan harga yang nyaris tidak berbeda jauh dari Nothing Phone (4a) yang lebih mumpuni, menunjukkan betapa sempitnya ruang gerak vendor di segmen harga rendah.

Ponsel Mahal Justru Makin Laris

Di sisi lain, segmen premium justru menunjukkan tren positif. Omdia memproyeksikan pengiriman ponsel di atas US$400 akan tumbuh 5,7% pada tahun ini. Meski begitu, segmen ini tidak sepenuhnya kebal terhadap dampak kenaikan harga RAM.

Bagi konsumen di Indonesia, situasi ini berarti pilihan ponsel Android baru di kelas Rp 2-6 jutaan akan semakin terbatas. Vendor kemungkinan akan lebih agresif mendorong ponsel flagship atau setidaknya model kelas atas yang lebih menguntungkan secara margin. Membeli ponsel flagship tahun lalu kini menjadi opsi yang lebih rasional dibandingkan membeli ponsel entry-level baru dengan harga yang sama.

Bagikan
Sumber: 9to5google.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks