PANGKALPINANG — Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sandy Aji, mengungkapkan bahwa kebakaran terjadi akibat ulah manusia. "Penyebab karhutla ini banyak disebabkan oleh warga yang membakar sampah dan membersihkan lahan pertanian, yang kemudian api merambat ke kawasan hutan sekitarnya," kata Sandy di Pangkalpinang, Senin.
Api Menjalar Cepat di Semak Kering
Menurut data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD setempat, kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar menjadi pemicu utama. Kondisi ini diperparah oleh cuaca panas yang membuat semak belukar dan vegetasi kering menjadi bahan bakar sempurna bagi api.
"Api akan sangat mudah menjalar ke semak-semak belukar yang mengering selama musim kemarau ini," ujar Sandy. Ia menambahkan, kelalaian saat gotong royong membersihkan hutan kota juga memicu munculnya titik api yang tak terkendali.
Belitung dan Belitung Timur Zona Merah
Dari delapan kejadian yang tercatat, dua kabupaten di Pulau Belitung menjadi wilayah dengan intensitas kebakaran tertinggi. Sandy menyebutkan, kebiasaan masyarakat setempat membuka lahan perkebunan dengan api masih sulit dihilangkan. "Kebakaran hutan dan lahan di Pulau Belitung masih tinggi, karena adanya kebiasaan masyarakat membuka lahan pertanian dan perkebunan dengan membakar," jelasnya.
Sementara itu, BPBD melaporkan tidak ada kejadian bencana alam lain seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, maupun kecelakaan kapal dampak cuaca buruk selama periode yang sama.
Sosialisasi Digencarkan, Ancaman Hukum Mengintai
Untuk menekan angka kebakaran, BPBD provinsi bersama BPBD kabupaten dan kota terus mengintensifkan sosialisasi ke masyarakat. Imbauan utama yang disampaikan adalah larangan membakar lahan dalam bentuk apa pun selama musim kemarau.
"Kami mengimbau masyarakat tidak membakar lahan," tegas Sandy. Upaya pencegahan ini menjadi krusial mengingat potensi kebakaran masih terbuka lebar selama puncak musim kemarau belum usai.