SUNGAILIAT — Optimisme mengemuka dari jajaran pengelola Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Mereka yakin target nilai produksi perikanan tangkap sebesar Rp113.452.893.540 pada 2026 bisa tercapai.
Keyakinan itu disampaikan Asisten Pengelola Produksi Perikanan Tangkap UPT PPN Sungailiat, Sukamto Yulian, di Sungailiat, Selasa. Ia membeberkan bahwa realisasi hingga saat ini sudah mencapai Rp64.886.476.000, dengan volume produksi ikan sebanyak 1.874.367 kilogram.
Target Produksi Ikan Capai 4.303 Ton
Secara keseluruhan, PPN Sungailiat menargetkan produksi ikan hasil tangkapan nelayan seberat 4.303.905 kilogram sepanjang tahun ini. Angka tersebut setara dengan nilai ekonomi yang ditargetkan menyentuh angka Rp113,45 miliar.
“Kami optimis, target produksi perikanan tangkap tersebut mampu tercapai,” ujar Sukamto Yulian kepada ANTARA di Sungailiat.
Nelayan Gunakan Alat Tangkap Ramah Lingkungan
Sukamto memastikan bahwa seluruh alat tangkap yang digunakan nelayan yang berlabuh di PPN Sungailiat sudah sesuai regulasi. Alat-alat tersebut tergolong ramah lingkungan dan disahkan undang-undang.
- Pancing ulur
- Bubu
- Payang
- Gillnet hanyut
- Gillnet tetap
- Mini purse seine
Kapasitas kapal pun disesuaikan dengan jenis alat tangkap. Untuk pancing ulur, kapal yang digunakan umumnya berukuran 5 hingga 20 gross ton (GT). Sementara kapal dengan alat tangkap mini purse seine memiliki kapasitas antara 11 hingga 30 GT.
Cuaca Jadi Faktor Penentu Produksi Bulanan
Produksi ikan setiap bulan, menurut Sukamto, sangat bergantung pada kondisi cuaca di perairan penangkapan. Saat gelombang pasang yang kerap disertai angin kencang, produksi ikan biasanya mengalami penurunan drastis.
“Sebaliknya, saat cuaca bersahabat, hasil tangkapan nelayan meningkat signifikan,” jelasnya.
Ikan Kualitas Premium untuk Eksportir
Hasil tangkapan nelayan tidak semuanya dijual ke tempat yang sama. Sukamto menjelaskan bahwa nelayan memilah ikan berdasarkan kualitasnya. Ikan dengan kualitas bagus langsung dijual ke perusahaan eksportir, sedangkan ikan kualitas rendah dijual ke tempat pelelangan ikan atau pasar tradisional.
Pola ini, menurutnya, memberikan nilai tambah bagi nelayan karena mereka bisa mendapatkan harga lebih tinggi untuk tangkapan terbaiknya.