PANGKALPINANG — Survei Pusat Informasi Harga Pangan Strategis mencatat rata-rata harga daging ayam di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada September 2026 menyentuh Rp49.354. Kenaikan ini lebih tinggi dari harga rata-rata Agustus 2026 sebesar Rp43.661, atau naik 13,04 persen secara month-to-month.
Bahkan, harga tersebut melampaui Harga Acuan Penjualan yang ditetapkan Badan Pangan Nasional sebesar Rp40.000, dengan selisih mencapai 23,39 persen. Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebelumnya merilis inflasi Agustus 2026 tercatat 3,94 persen secara year-on-year, salah satunya disumbang kenaikan harga daging ayam.
Bank Indonesia menengarai setidaknya lima faktor yang membuat harga daging ayam ras terus naik dalam beberapa pekan terakhir. Faktor pertama, harga ikan laut yang tinggi akibat stok terbatas karena cuaca ekstrem membuat masyarakat beralih ke daging ayam untuk memenuhi kebutuhan protein.
Faktor kedua, gangguan produksi daging ayam ras yang berdampak pada pasokan. Ketiga, meningkatnya pemenuhan kebutuhan daging ayam ras pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam rangka pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Keempat, kecenderungan pelaku usaha mempertahankan margin keuntungan sejalan dengan harga pembelian yang sudah tinggi. Kelima, peringatan acara keagamaan yang bersamaan waktunya.
Bank Indonesia menilai Tim Pengendalian Inflasi Daerah perlu bergerak cepat mengantisipasi lonjakan harga daging ayam ras yang masih berlanjut. Sejumlah langkah konkret disiapkan, mulai dari inspeksi mendadak ke kandang Day Old Chick dan peternak ayam ras mandiri maupun kemitraan berskala besar.
Langkah lain, investigasi rantai nilai komoditas daging ayam ras dari hulu ke hilir. Ini mencakup pemantauan Harga Acuan Penjualan di tingkat konsumen, deteksi potensi spekulasi oleh pedagang, serta sidak ke distributor untuk memeriksa indikasi penimbunan stok daging ayam segar maupun beku.
TPID juga diminta memastikan kelancaran distribusi pasokan pangan dari luar daerah, berkoordinasi dengan produsen dan instansi vertikal untuk mengidentifikasi akar permasalahan, serta mencari solusi peningkatan produksi ayam lokal di Bangka Belitung.
Koordinasi dengan Badan Gizi Nasional disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan harga daging ayam ras seiring pemenuhan kebutuhan SPPG. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah mencari sumber alternatif protein hewani selain ayam ras untuk mengurangi permintaan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, menyatakan pihaknya terus mendukung upaya stabilisasi harga melalui implementasi program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera.
"Sampai saat ini, Bank Indonesia terus mendukung upaya stabilisasi harga melalui implementasi program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS)," ujar Rommy.
Langkah konkret tersebut, menurut Rommy, telah dilakukan Bank Indonesia dengan memberikan fasilitasi terhadap pelaksanaan Operasi Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah.
"Kami juga mendukung TPID dalam perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) guna memastikan ketersediaan pasokan pangan," kata Rommy.
Bank Indonesia juga mendukung Fasilitasi Distribusi Pangan, antara lain fasilitasi pengiriman 7.000 kilogram daging ayam beku ke Belitung Timur. Selain itu, penguatan kompetensi anggota TPID dan klaster pangan melalui Capacity Building, serta komunikasi publik untuk menjaga ekspektasi masyarakat.
Kenaikan harga daging ayam ras menjadi perhatian tersendiri karena komoditas ini termasuk penyumbang inflasi di Bangka Belitung. Dengan harga yang sudah 23,39 persen di atas HAP Bapanas, langkah pengendalian dinilai tidak bisa ditunda.