Harga Pertalite dan Solar Subsidi Tak Naik sampai Akhir 2026, Ini Rinciannya

Penulis: Nofrizal Hasan  •  Senin, 14 September 2026 | 08:21:31 WIB
Harga Pertalite dan Solar subsidi tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kepastian tersebut disampaikan di tengah tekanan harga minyak mentah dunia yang sudah menembus 100 dolar AS per barel. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga masih berfluktuasi.

Produk yang Tidak Naik dan Harga Terbarunya

Produk BBM subsidi yang dimaksud adalah Pertalite dan Solar subsidi (Biosolar). Keduanya masih dijual di harga lama.

Pertalite saat ini dijual Rp 10.000 per liter. Biosolar subsidi Rp 6.800 per liter. Harga itu tidak berubah hingga akhir 2026 sesuai arahan Pemerintah.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah menjaga stabilitas harga energi. Tujuannya agar daya beli masyarakat tidak tergerus dinamika harga energi global.

Alasan Pertamina Tahan Harga Subsidi

Pertamina menyebut harga BBM subsidi ditetapkan mengikuti kebijakan Pemerintah, bukan formula pasar. Karena itu, fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar tidak langsung diterjemahkan ke harga jual.

"Pertamina Patra Niaga mengikuti kebijakan Pemerintah dalam penetapan harga BBM. Meskipun terdapat fluktuasi pada sejumlah parameter pembentuk harga, seperti harga minyak dunia dan nilai tukar, untuk BBM subsidi sesuai arahan Pemerintah tidak ada kenaikan harga hingga akhir 2026. Sementara untuk JBU, harga mengikuti formula yang telah ditetapkan Pemerintah," ujar VP Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, dalam keterangan tertulis.

BBM Non-Subsidi Ikut Formula, Bisa Naik

Berbeda dari BBM subsidi, harga BBM Jenis BBM Umum (JBU) atau non-subsidi mengikuti formula yang ditetapkan Pemerintah. Artinya, harga Pertamax dan sejenisnya masih bisa bergerak naik.

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto memberi gambaran soal risiko itu. Menurut dia, harga Pertamax bisa mendekati Rp 20.000 per liter bila harga minyak dunia tidak turun.

"Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp 18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," kata Eko, dikutip detikFinance.

Sepanjang tahun ini, harga Pertamax di wilayah Jabodetabek sempat menyentuh Rp 16.250 per liter. Pada Agustus harganya turun menjadi Rp 15.950 per liter. Memasuki September, harga bertahan di level yang sama.

Siapa yang Paling Terdampak

Kebijakan menahan harga Pertalite dan Biosolar menyasar rumah tangga, pelaku usaha kecil, dan sektor transportasi yang bergantung pada BBM subsidi. Mereka adalah kelompok yang paling merasakan langsung bila harga naik.

Untuk pengguna Pertamax dan BBM non-subsidi lain, harga masih mengikuti formula. Perubahan bisa terjadi kapan saja tergantung pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar.

Cara Memastikan Informasi Harga Resmi

Harga BBM resmi hanya diumumkan lewat kanal Pertamina dan Pemerintah. Masyarakat disarankan mengecek langsung ke:

  1. Situs resmi Pertamina, termasuk laman Pertamina Patra Niaga
  2. Aplikasi MyPertamina untuk melihat harga di SPBU terdekat
  3. Pengumuman resmi Kementerian ESDM atau Kementerian Keuangan
  4. Papan harga di SPBU resmi Pertamina

Informasi soal jadwal penyesuaian harga JBU dan detail teknis lainnya dapat diakses melalui kanal resmi Pertamina. Hingga kini belum ada keterangan resmi soal tanggal evaluasi harga BBM non-subsidi berikutnya.

Waspadai Informasi Palsu soal Harga BBM

Isu kenaikan BBM sering jadi bahan penipuan. Modusnya beragam, mulai dari pesan berantai soal harga baru hingga tawaran "loterai" atau bantuan pembelian BBM murah.

Masyarakat bisa melaporkan informasi mencurigakan ke call center Pertamina 135 atau kanal pengaduan resmi Kementerian ESDM. Jangan transfer uang ke pihak mana pun yang mengaku bisa mengunci harga BBM.

Reporter: Nofrizal Hasan
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top