Monopoli Edukatif untuk Belajar Puisi Rakyat, Cara Seru SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo

Penulis: Yusrizal Ahmad  •  Selasa, 08 September 2026 | 10:51:31 WIB
Siswa SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo bermain monopoli edukatif untuk belajar puisi rakyat di kelas.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Belajar Puisi Rakyat Tanpa Ceramah Membosankan

Guru pengampu Lailatus Sholichah, S.Pd menghadirkan inovasi berupa papan permainan monopoli edukatif. Metode ini dirancang khusus untuk mengajarkan Bab Puisi Rakyat yang mencakup pantun, gurindam, dan syair.

Dengan pendekatan ini, penyampaian konsep tidak lagi satu arah. Para siswa justru terlibat aktif langsung dalam proses pembelajaran di kelas, berdiskusi, dan memecahkan soal bersama kelompoknya.

Aturan Main dan Area Tantangan di Papan Monopoli

Sebanyak 19 siswa terbagi menjadi lima kelompok, masing-masing berisi empat hingga lima orang. Setiap anak memegang pion karakter sebagai penanda posisi dan bergiliran mengocok dadu.

Papan permainan memiliki empat area khusus dengan tantangan berbeda. Pos Pantun (hijau) berisi pertanyaan seputar struktur dan rima, plus tantangan membuat bait pantun secara langsung.

Pos Gurindam (oranye) menguji pemahaman tentang bait berpasangan dan pesan moral di dalamnya. Sementara Pos Syair (biru) menantang siswa menganalisis rima terikat berpola a-a-a-a dan makna kiasan. Ada juga Pos Kesempatan yang melatih keberanian serta kerja sama lewat variasi tantangan tak terduga.

Berburu Koin dan Membangun Kepercayaan Diri

Saat pion berhenti di sebuah pos, siswa wajib mengambil kartu soal sesuai warna area. Jawaban benar akan diganjar koin yang diakumulasikan di akhir sesi untuk menentukan kelompok terbaik.

Ella, sapaan akrab Lailatus Sholichah, mengungkapkan media ini terbukti mendongkrak motivasi belajar. “Anak-anak menjadi lebih proaktif,” ujarnya.

Mereka saling berdiskusi memecahkan soal demi mengumpulkan koin. Dengan cara ini, siswa memahami perbedaan mendasar pantun, gurindam, dan syair tanpa terbebani hafalan teori.

Kata Siswa: Tegang Hilang, Belajar Jadi Menyenangkan

Salah satu siswa, Rhaka Ghalibie Fidianto, mengaku sangat menikmati model pembelajaran ini. “Rasa tegang saat menjawab soal hilang karena pembelajaran berlangsung melalui permainan kompetitif,” ujarnya.

Terobosan kreatif ini diharapkan membuat pembelajaran Bahasa Indonesia di Miosi semakin menarik. Media monopoli edukatif pun menjadi momen yang selalu ditunggu para siswa.

Reporter: Yusrizal Ahmad
Sumber: tagar.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top