Dengan pendekatan ini, penyampaian konsep tidak lagi satu arah. Para siswa justru terlibat aktif langsung dalam proses pembelajaran di kelas, berdiskusi, dan memecahkan soal bersama kelompoknya.
Papan permainan memiliki empat area khusus dengan tantangan berbeda. Pos Pantun (hijau) berisi pertanyaan seputar struktur dan rima, plus tantangan membuat bait pantun secara langsung.
Pos Gurindam (oranye) menguji pemahaman tentang bait berpasangan dan pesan moral di dalamnya. Sementara Pos Syair (biru) menantang siswa menganalisis rima terikat berpola a-a-a-a dan makna kiasan. Ada juga Pos Kesempatan yang melatih keberanian serta kerja sama lewat variasi tantangan tak terduga.
Ella, sapaan akrab Lailatus Sholichah, mengungkapkan media ini terbukti mendongkrak motivasi belajar. “Anak-anak menjadi lebih proaktif,” ujarnya.
Mereka saling berdiskusi memecahkan soal demi mengumpulkan koin. Dengan cara ini, siswa memahami perbedaan mendasar pantun, gurindam, dan syair tanpa terbebani hafalan teori.
Terobosan kreatif ini diharapkan membuat pembelajaran Bahasa Indonesia di Miosi semakin menarik. Media monopoli edukatif pun menjadi momen yang selalu ditunggu para siswa.