KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Co-founder sekaligus Chief Product Officer Riot Games, Marc Merrill, buka suara soal proyek MMO misterius yang sedang digarap studio tersebut. Dalam sesi wawancara di Pax West 2026 bersama Greg Miller, Merrill menggambarkan game tersebut sebagai "the grail" — sebuah proyek ambisius yang dianggap suci dan layak diperjuangkan meski penuh risiko.
"Kami tahu apa harapan dan mimpi para pemain. Ini tanggung jawab kami sebagai tim untuk berhasil dalam eksekusinya. Sungguh sebuah pencarian yang layak. Kami bercanda menyebutnya the grail di internal karena kami berpikir 'terserah, banyak ksatria pemberani yang akan mati'," ujar Merrill.
"Tapi terserah, ini the grail, jadi mari kita jalani. Itulah pola pikir yang kami coba kembangkan, meski sangat sulit dilakukan dalam skala besar. Saya pikir kami melakukannya dengan cukup baik dan masa depan akan sangat cerah."
MMO ini sejauh ini belum memiliki nama resmi, bahkan nama kode proyek pun tidak diumumkan. Tidak ada tanggal rilis, tidak ada konfirmasi genre spesifik, dan yang paling mengkhawatirkan: tidak ada satu pun cuplikan gameplay, screenshot, atau konsep art yang diperlihatkan ke publik sejak proyek ini diumumkan sekitar tujuh tahun lalu.
Proyek ini awalnya digarap di bawah arahan Greg Street, mantan lead developer Blizzard yang dikenal lewat World of Warcraft, namun ia meninggalkan Riot pada 2023. Sejak itu, pengembangan dilaporkan di-restart dari awal. Merrill sempat mengatakan game ini akan rilis sebelum 2030, tapi tidak ada detail tambahan yang dibagikan.
Pernyataan Merrill ini langsung menuai respons beragam dari komunitas. Di tengah euforia penggemar yang menantikan MMO baru, banyak pula yang skeptis — terutama setelah Riot memutuskan menghentikan pengembangan 2XKO, game fighting yang baru dirilis tahun ini.
Sentimen yang berkembang di platform X cukup tajam. Akun @Sloth menulis: "Mereka membesar-besarkan MMO ini seolah tidak akan ditembak di kepalanya setelah enam bulan karena tidak lebih besar dari WoW." Sementara itu, Red Riot Ross menambahkan: "Satu-satunya hal yang dilakukan 2XKO terhadap Riot adalah memberi optik yang sangat buruk pada apa pun yang mereka lakukan ke depannya."
Kekhawatiran lain datang dari minimnya informasi. Akun Snowbird mengungkapkan frustrasinya: "Hampir tujuh tahun sejak mereka mengumumkan sedang menggarap MMO dan kita tidak punya screenshot, karya seni konsep, tidak ada apa-apa." Senada dengan itu, Enderspider menulis: "Saya paham membangun MMO itu kerja keras, tapi cukup liar kita benar-benar tidak melihat atau mendengar apa pun selain 'kami sedang membangun MMO' padahal mereka sudah mengerjakannya selama lima tahun."
Dalam kesempatan yang sama, Merrill angkat bicara soal penutupan 2XKO yang terjadi hanya beberapa bulan setelah perilisannya. Ia menegaskan bahwa ia tidak menganggap 2XKO sebagai sebuah kesalahan, meski umur layanannya sangat pendek.
"Salah satu tantangan game free-to-play dan model live service secara umum adalah bersaing untuk mendapatkan perhatian orang. Ada lebih dari 20.000 game dirilis per tahun di Steam, konten media sosial tak terbatas, dan YouTube penuh dengan tontonan. Standarnya sangat tinggi," jelas Merrill.
"2XKO sayangnya tidak mencapai itu, tapi bukan berarti game tersebut tidak bagus. Itulah mengapa kami memberikan refund. Itu juga mengapa kami menjaga game tetap live. Niat untuk melayani komunitas fighting game tidak pernah hilang dari hati para developer dan Rioters."
Merrill menambahkan: "Kami tidak akan selalu menang, tapi itu tidak berarti kami tidak bangga. Kami akan terus mengambil risiko besar. Jika ada satu hal tentang Riot, kami punya keinginan yang tak terpadamkan untuk melayani dan membuat segalanya lebih baik."
Bagi gamer Tanah Air yang menantikan MMO besutan Riot, situasi ini tentu memunculkan pertanyaan besar: apakah game ini akan benar-benar dirilis dan bertahan lama? Riwayat Riot dalam mengelola game live service memang tidak selalu mulus. Selain 2XKO, perusahaan juga sempat menghadapi tantangan dalam mempertahankan beberapa judul lamanya.
Namun di sisi lain, Riot punya rekam jejak panjang dengan League of Legends yang hingga kini masih menjadi salah satu game paling populer di dunia, termasuk di Indonesia dengan basis pemain yang sangat besar. Valorant juga berhasil membangun ekosistem kompetitif yang solid di Asia Tenggara.
MMO adalah genre yang berbeda — butuh investasi besar, konten berkelanjutan, dan komitmen jangka panjang untuk membangun dunia serta komunitasnya. Dengan belum adanya informasi konkret soal gameplay, sistem, atau bahkan setting dunia, wajar jika banyak pemain menahan ekspektasi mereka.
Satu hal yang pasti: proyek ini masih dalam pengembangan dan Riot sendiri belum memberikan jadwal pasti kapan informasi lebih lanjut akan dibagikan. Sampai ada bukti nyata berupa gameplay atau setidaknya konsep visual, komunitas akan terus menunggu dengan campuran antara harapan dan skeptisisme.