KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Fenomena suara dentuman yang terdengar hingga jarak sangat jauh dari sumber letusan gunung api memang bisa terjadi. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Rita Susilawati, menjelaskan erupsi tertentu melepaskan energi akustik yang sangat besar.
"Ketika ini terjadi, pelepasan energi akustiknya itu bisa sangat besar. Dan energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer," kata Rita dalam konferensi pers, Sabtu (5/9/2026).
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari. Aktivitas vulkanik ini memperlihatkan semburan lava pijar yang konsisten, mirip karakteristik air mancur lava atau lava fountain.
Menurut Badan Geologi, erupsi tipe ini berlangsung selama beberapa jam dan disertai suara gemuruh. Rita menambahkan, karakteristik letusan seperti lava fountain memang biasanya menghasilkan dentuman nyaring.
"Kalau tipe fountain ini memang biasanya disertai dentuman yang nyaring," ujarnya.
Peristiwa suara erupsi yang merambat sangat jauh sebenarnya sudah beberapa kali terekam di Indonesia. Rita mencontohkan erupsi eksplosif Gunung Kelud pada 13 Februari 2014 yang suara dentumannya terdengar hingga Yogyakarta dan sejumlah wilayah Jawa Tengah.
Kejadian serupa juga tercatat saat Anak Krakatau erupsi pada April 2020. Saat itu, dentuman dilaporkan terdengar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Pencocokan data PVMBG menunjukkan waktu laporan dentuman berkesesuaian dengan erupsi pada 10 April 2020 pukul 21.58 WIB dan 22.35 WIB.
Kendati demikian, kesamaan waktu tersebut tidak otomatis membuktikan Anak Krakatau sebagai sumber suara. PVMBG menegaskan korelasi waktu masih harus didukung data lain untuk memastikan asal dentuman.
Kemunculan dentuman dan getaran di Bandung turut memunculkan kekhawatiran soal potensi aktivitas tektonik di Jawa Barat. Namun, berdasarkan informasi yang dimiliki PVMBG saat konferensi pers, belum ada laporan gempa tektonik yang bisa menjelaskan fenomena tersebut.
"Getaran tersebut memang kemungkinan bukan berasal dari gempa tektonik karena tidak dilaporkan, saat ini tidak terlaporkan terjadi gempa tektonik di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya," kata Rita.
PVMBG menduga fenomena yang dilaporkan warga lebih mungkin berkaitan dengan aktivitas Anak Krakatau yang terjadi pada waktu bersamaan. Namun, untuk memastikan sumbernya, PVMBG masih perlu mencocokkan waktu erupsi dengan waktu masyarakat mendengar dentuman dan merasakan getaran.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada Level III atau Siaga, status yang berlaku sejak 2 Juli 2026. Badan Geologi meminta masyarakat, wisatawan, dan pengunjung untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari pusat aktivitas gunung.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat yang dapat terjadi sewaktu-waktu.