KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Gitaris Queens of the Stone Age, Dean Fertita, menyatakan band asal California itu masih menyimpan keinginan tampil di Indonesia meski belum ada rencana resmi. Dalam wawancara eksklusif dengan Medcom.id, ia menyebut Indonesia masuk dua negara yang belum pernah mereka kunjungi. QOTSA sendiri dijadwalkan manggung di The Star Theatre Singapura pada 2 Desember 2026.
Dean Fertita tidak menjanjikan tanggal atau memastikan konser QOTSA di Indonesia bakal segera terwujud. Ia menegaskan persoalannya bukan soal kemauan, melainkan bagaimana mengatur rute tur agar Indonesia bisa masuk ke dalam jadwal perjalanan band.
Pernyataan itu sekaligus menjawab pertanyaan penggemar Indonesia: QOTSA ingin datang, tetapi keinginan tersebut belum berubah menjadi pengumuman konser resmi.
Isi Wawancara Dean Fertita
Dalam wawancara dengan Medcom.id, Dean mengakui Indonesia masih menjadi salah satu tujuan yang belum berhasil mereka kunjungi. Ia menyebut keinginan tersebut telah berulang kali dibicarakan di lingkungan band.
"Kamu tahu betapa kami sangat ingin melakukan itu. Kami belum punya rencana untuk melakukannya, tapi kami terus meminta untuk bisa datang ke dua tempat yang belum pernah kami kunjungi. Dan saya tahu band-band lain memang datang dan menggelar pertunjukan di area-area tersebut," kata Dean.
Ia menambahkan bahwa keputusan akhirnya bergantung pada agen booking dan pihak-pihak yang mengatur logistik tur. "Jadi kami hanya harus mencari cara agar itu bisa terwujud. Saya tahu itu selalu jadi bahan diskusi, jadi ini seperti terserah agen booking dan semua orang lainnya untuk mencari tahu apakah kami bisa mengatur rute perjalanan itu dan membawa kami ke sana. Tapi ini bukan karena kami kurang berusaha. Kami ingin melakukannya," ujarnya.
Mengapa Indonesia Belum Masuk Rute QOTSA
Indonesia punya basis pendengar rock dan musik alternatif yang tumbuh lintas generasi. Lagu-lagu QOTSA seperti "No One Knows," "Go with the Flow," "Little Sister," dan "3's & 7's" sudah lama dikenal di kalangan penggemar musik gitar.
Band yang dibentuk di Palm Desert, California, pada 1996 ini dipimpin vokalis sekaligus gitaris Josh Homme. Karakter musik mereka dibangun dari riff gitar repetitif, ritme berat, psikadelia, dan pendekatan penulisan lagu yang tak selalu mengikuti struktur rock konvensional.
Dean bergabung pada 2007 dan memperluas palet suara band lewat permainan gitar serta kibor. Pengalaman dari berbagai proyek musik lain ia bawa ke proses kreatif QOTSA.
Bagi penggemar, kesempatan melihat QOTSA secara langsung bukan sekadar menonton satu pertunjukan. Itu berarti menyaksikan bagaimana musik yang selama ini didengar lewat rekaman diterjemahkan ke panggung.
Singapura Jadi Pintu Masuk Asia Tenggara
QOTSA dijadwalkan tampil di The Star Theatre, Singapura, pada 2 Desember 2026. Pertunjukan tersebut diumumkan sebagai konser pertama mereka di negara itu.
Informasi resmi penyelenggara menyebut konser Singapura akan menghadirkan materi dari perjalanan karier band, termasuk lagu-lagu yang telah menjadi bagian penting katalog mereka.
Jadwal di Singapura memperlihatkan Asia Tenggara masuk dalam jangkauan perjalanan QOTSA. Namun keberadaan jadwal di negara tetangga tidak otomatis membuat Indonesia menjadi bagian dari rute yang sama.
Dean justru menggarisbawahi bahwa persoalan tur melibatkan banyak pihak, termasuk agen pemesanan dan penyelenggara. Ketersediaan waktu, logistik, dan kemungkinan menghubungkan satu kota dengan kota lain harus selesai dihitung sebelum sebuah konser bisa diumumkan.
Peluang Konser di Indonesia
Keinginan artis dan kepastian jadwal adalah dua hal berbeda. Pernyataan Dean memberi alasan bagi penggemar untuk berharap, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pertunjukan di Indonesia sedang dalam tahap finalisasi.
Jika rute Asia Tenggara diperluas setelah Singapura, Indonesia berpeluang masuk sebagai kota lanjutan. Sampai saat itu, penggemar lokal masih harus menunggu pengumuman resmi dari promotor.