PANGKALPINANG — Kepala BMKG Kepulauan Babel Eko Sulistyo Nugroho mengungkapkan bahwa puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada September 2026. Berdasarkan pemetaan spasial curah hujan bulanan periode Juni hingga November 2026, beberapa wilayah diprakirakan mengalami kondisi kering yang lebih signifikan dibandingkan daerah lainnya.
Enam Wilayah Prioritas Rawan Kekeringan
Eko merinci, wilayah prioritas kekeringan terkonsentrasi di Bangka Barat bagian barat, Bangka Selatan, Belitung bagian barat, dan Belitung Timur bagian timur. Daerah-daerah itu diperkirakan menerima curah hujan lebih rendah dibandingkan wilayah sekitarnya selama puncak musim kemarau.
"Musim kemarau tahun ini lebih kering, sehingga berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan," kata Eko di Pangkalpinang, Rabu.
Bangka Barat dan Bangka Selatan Paling Terdampak
Di Kabupaten Bangka Barat, tiga kecamatan yang masuk zona kritis adalah Muntok, Simpang Teritip, dan Tempilang. Sementara di Bangka Selatan, daerah yang perlu diwaspadai meliputi Kecamatan Toboali, Tukak Sadai, Lepar Pongok, serta sebagian Air Gegas dan Pulau Besar.
Untuk Kabupaten Bangka, kondisi kering diprediksi relatif merata, terutama di Kecamatan Mendo Barat dan Merawang. Kota Pangkalpinang juga diperkirakan mengalami kekeringan yang merata di seluruh kecamatan.
Belitung dan Belitung Timur: Sisi Barat dan Timur Jadi Sorotan
Di Kabupaten Belitung, potensi kekeringan terkonsentrasi di wilayah bagian barat. Sementara di Belitung Timur, area yang perlu diantisipasi berada di bagian timur kabupaten tersebut. Kabupaten Bangka Tengah juga tidak luput dari ancaman, meskipun curah hujan sedikit lebih tinggi diprakirakan terjadi di sebagian Kecamatan Koba dan Lubuk Besar.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi, seperti penyiapan cadangan air bersih dan pengelolaan lahan yang rawan terbakar. Data ini menjadi acuan bagi pemkab dan pemkot dalam menyusun rencana kontingensi menghadapi musim kemarau yang lebih ekstrem tahun ini.