TEMPILANG — Transformasi besar tengah terjadi di 60 desa dan kelurahan se-Kabupaten Bangka Barat. Pos pelayanan terpadu (posyandu) yang selama ini identik dengan timbang berat badan bayi dan lansia, kini diperluas fungsinya untuk menjalankan enam standar pelayanan minimal (SPM) yang terintegrasi dengan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bangka Barat, Achmad Nursyandi, menegaskan bahwa pergeseran ini bukan sekadar perubahan nama. "Saat ini posyandu bukan lagi sekadar untuk timbang berat badan bayi dan warga lanjut usia, namun telah bertransformasi menjadi garda terdepan untuk membangun kesejahteraan keluarga," ujarnya di Mentok, Selasa.
Enam Layanan yang Kini Bisa Diurus di Posyandu
Peta jalan transformasi ini sudah disiapkan sejak akhir tahun lalu. Enam bidang yang masuk dalam standar pelayanan minimal tersebut meliputi:
- Kesehatan anak – imunisasi, pemantauan tumbuh kembang, dan gizi.
- Pendidikan – deteksi dini anak tidak sekolah dan akses PAUD.
- Perumahan rakyat – pendataan rumah tidak layak huni.
- Pekerjaan umum – pemetaan akses air bersih dan sanitasi.
- Ketenteraman dan ketertiban umum – pelaporan dini potensi konflik sosial.
- Akurasi bantuan sosial – verifikasi dan validasi data penerima bansos agar tepat sasaran.
Integrasi ini, menurut Achmad, merupakan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan setiap warga mendapatkan hak layanan dasar secara mudah dan berkualitas tanpa harus berkeliling ke kantor dinas.
Posyandu Flamboyan: Dari Juara Provinsi ke Ajang Nasional
Bukti keberhasilan transformasi ini terlihat pada Posyandu Flamboyan di Desa Buyakelumbi, Kecamatan Tempilang. Posyandu tersebut berhasil menjadi wakil Kabupaten Bangka Barat dalam lomba posyandu enam standar pelayanan minimal tingkat nasional tahun ini, setelah sebelumnya menyabet juara di tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
"Kemarin kita juga mendampingi tim penilai lomba di Posyandu Flamboyan. Kita akan terus berusaha mendukung dan bersinergi dengan para kader agar posyandu semakin maju," kata Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Bangka Barat, Evi Astura Markus.
Inovasi dari Kader, Bukan dari Birokrasi
Evi mendorong seluruh tim pembina posyandu untuk menciptakan inovasi di setiap bidang SPM. Ia ingin kemudahan pelayanan tidak hanya datang dari keputusan birokrasi di atas, melainkan dari ide-ide para kader di lapangan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan warga.
"Kita akan melakukan inovasi-inovasi baru untuk memudahkan masyarakat menerima pelayanan dari pemerintah daerah dan menyiapkan berbagai hal untuk penilaian posyandu tingkat nasional," ujar Evi.
Transformasi ini menjadi angin segar bagi warga di pelosok Bangka Barat. Dengan satu pintu di posyandu, mereka kini tak perlu lagi mengurus data kependudukan di satu tempat, urusan bansos di tempat lain, dan keluhan infrastruktur di kantor camat. Semua bisa dimulai dari kader posyandu di kampung sendiri.