KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Bursa saham Amerika Serikat rontok setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 3,75-4,00 persen pada Rabu (16/9). Kenaikan ini menjadi keputusan bank sentral AS di tengah tekanan inflasi yang masih berlanjut. Pasar merespons negatif dengan aksi jual di hampir seluruh sektor.
Indeks-indeks utama Wall Street ambruk setelah pengumuman tersebut. Pelaku pasar menilai kenaikan bunga akan menekan biaya modal perusahaan dan memperlambat pertumbuhan ekonomi AS.
Bursa saham AS rontok usai keputusan The Fed. Aksi jual terjadi hampir merata di seluruh sektor, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak kebijakan moneter ketat yang berlanjut.
Kenaikan suku bunga acuan ke 3,75-4,00 persen merupakan level tertinggi dalam beberapa periode terakhir. The Fed menilai langkah ini diperlukan untuk mengendalikan tekanan harga yang masih tinggi.
Kebijakan The Fed kerap menjadi acuan bagi bank sentral negara lain, termasuk Bank Indonesia. Kenaikan suku bunga AS berpotensi memperkuat dolar dan memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.
Bagi investor di pasar domestik, sentimen ini bisa memicu arus modal keluar dari aset berisiko. Namun, respons pasar Indonesia akan bergantung pada langkah BI dalam menjaga stabilitas kurs dan inflasi.
Pelaku pasar kini menanti sinyal lanjutan dari The Fed mengenai arah kebijakan berikutnya. Ketidakpastian ini diperkirakan masih membayangi pergerakan pasar dalam jangka pendek.