5 Festival Budaya Kepulauan Bangka Belitung yang Wajib Masuk Kalender Perjalananmu

Penulis: Syahrul Karim  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 21:53:31 WIB
Ribuan warga keturunan Tionghoa dan Melayu berbaur dalam karnaval Cap Go Meh di Sungailiat dan Pangkalpinang.

Orang datang ke Bangka Belitung untuk laskar pelangi dan pantai timah. Tapi setelah ombak surut, yang tersisa justru denyut budaya yang tak kalah kuat. Di sini, tradisi bukan sekadar tontonan—ia napas sehari-hari masyarakat yang hidup dari laut dan timah. Bagi perantau atau wisatawan yang ingin merasakan sisi lain provinsi ini, festival budaya adalah pintu masuknya.

Lima perayaan di bawah ini bukan sekadar karnaval. Masing-masing punya cerita, fungsi sosial, dan momentum yang berbeda. Catat waktunya, karena sebagian besar hanya berlangsung sekali setahun.

1. Festival Cap Go Meh di Sungailiat dan Pangkalpinang

Perayaan puncak Imlek ini di Bangka Belitung punya skala yang berbeda. Di Sungailiat dan Pangkalpinang, ribuan warga keturunan Tionghoa dan Melayu berbaur dalam satu karnaval. Barongsai, liong, dan mobil hias memenuhi jalan utama selama dua hari penuh.

Yang menarik, Cap Go Meh di sini bukan sekadar acara etnis. Banyak warga lokal non-Tionghoa ikut memeriahkan sebagai relawan atau penonton. Ini cerminan asimilasi yang sudah berlangsung sejak abad ke-18, saat pekerja tambang dari Tiongkok selatan datang ke pulau ini.

Waktu terbaik datang adalah saat puncak karnaval di malam hari. Suara petasan dan beduk bisa terdengar dari radius satu kilometer. Datang lebih awal untuk mendapat tempat di pinggir jalan protokol—biasanya Jalan Jenderal Sudirman di Pangkalpinang menjadi pusat keramaian.

2. Festival Rebo Kasan di Desa Kurau

Ini bukan festival biasa. Rebo Kasan adalah ritual tolak bala yang digelar setiap Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Islam. Masyarakat Desa Kurau, Kabupaten Bangka Tengah, percaya hari itu adalah waktu turunnya musibah. Untuk menangkalnya, mereka mengadakan doa bersama dan makan nasi lemak di tepi pantai.

Uniknya, nasi lemak ini dimasak dalam jumlah besar dan dimakan beramai-ramai. Tidak boleh ada sisa makanan—itu pantangan. Warga yang tidak ikut makan dianggap rentan terkena sial. Ritual ini sudah berlangsung turun-temurun, diwariskan dari nenek moyang Melayu yang membawa tradisi dari Sumatera.

Bagi pengunjung, ini kesempatan langka menyaksikan kepercayaan lokal yang masih dijalankan secara utuh. Tidak ada panggung atau pertunjukan yang dipoles untuk turis. Semua berjalan apa adanya, seperti yang dilakukan kakek buyut mereka dulu.

3. Kenduri Sekampung di Pulau Belitung

Kenduri Sekampung adalah tradisi syukuran panen dan tolak bala khas masyarakat Belitung. Biasanya digelar setelah musim panen lada atau durian. Warga satu kampung berkumpul membawa makanan dari rumah masing-masing. Semua ditata di atas tikar panjang di halaman rumah kepala desa atau di lapangan terbuka.

Yang membedakan dengan kenduri di daerah lain adalah konsep "sekampung"—artinya seluruh warga desa, tanpa terkecuali, harus hadir. Tidak ada alasan sibuk. Kalau ada yang tidak datang, dianggap tidak menghormati leluhur. Tradisi ini juga menjadi ajang musyawarah desa untuk membahas masalah bersama sambil makan.

Waktu pelaksanaan tidak tetap. Biasanya diumumkan seminggu sebelumnya melalui pengeras suara masjid atau grup WhatsApp desa. Cari informasi dari warga lokal atau akun media sosial desa jika ingin hadir.

4. Festival Nganggung di Bangka Induk

Nganggung adalah tradisi membawa makanan dalam wadah tertutup (dulang) ke masjid atau balai pertemuan. Setiap keluarga membawa satu dulang berisi nasi, lauk, dan buah. Makanan ini kemudian dimakan bersama setelah salat atau acara keagamaan selesai.

Di Bangka, tradisi ini masih dijalankan rutin setiap malam Jumat dan hari besar Islam. Tapi dalam festival tahunan yang digelar pemerintah daerah, Nganggung dikemas lebih meriah. Ratusan dulang diarak dari berbagai desa sebelum akhirnya dimakan bersama. Ada juga lomba menghias dulang terbaik.

Bagi wisatawan, ini cara paling mudah mencicipi masakan rumahan khas Bangka tanpa harus diundang ke rumah warga. Lauk yang biasa muncul: ikan salai, sambal lingga (belimbing wuluh), dan sayur lemak daun ubi.

5. Festival Bahari dan Budaya di Tanjung Pandan

Berbeda dengan festival lain yang berbasis tradisi, Festival Bahari lebih ke arah promosi wisata. Tapi jangan remehkan—di dalamnya ada lomba perahu hias, pacu bidar (perahu tradisional), dan pameran kuliner laut. Acara ini biasanya digelar di Pantai Tanjung Kelayang atau Pantai Parai Tenggiri.

Yang menarik adalah lomba pacu bidar. Perahu kayu sepanjang 10-12 meter didayung oleh 15-20 orang. Lomba ini bukan sekadar olahraga, tapi juga napak tilas masa lalu saat bidar menjadi alat transportasi utama antar pulau di Belitung.

Festival ini biasanya berlangsung di akhir pekan antara September hingga November. Cek jadwal resmi dari Dinas Pariwisata Belitung, karena tanggalnya bisa berubah setiap tahun.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan waktu terbaik ke Bangka Belitung untuk menyaksikan festival budaya?
Jika ingin Cap Go Meh, datang sekitar Februari. Untuk Rebo Kusan, cek kalender Islam—biasanya antara September dan November. Festival Bahari di Belitung umumnya di akhir tahun.

Apakah festival-festival ini gratis untuk ditonton?
Sebagian besar terbuka untuk umum tanpa tiket. Hanya beberapa acara di Festival Bahari yang mungkin memungut biaya parkir atau partisipasi lomba. Tidak ada harga pasti—cek langsung di lokasi.

Bagaimana cara menuju lokasi festival di desa-desa terpencil?
Untuk desa seperti Kurau atau kampung di Belitung, transportasi umum terbatas. Sewa motor atau mobil di kota besar (Pangkalpinang atau Tanjung Pandan) adalah pilihan paling praktis. Jarak tempuh bisa 1-2 jam dari pusat kota.

Apa yang harus dibawa saat menghadiri festival tradisional?
Bawa tikar atau alas duduk, topi, air minum sendiri, dan kamera. Untuk Rebo Kusan, jangan lupa bawa wadah makanan jika ingin ikut makan bersama—tapi pastikan tidak mengambil lebih dari yang bisa kamu habiskan.

Apakah wisatawan asing diterima di festival-festival ini?
Sangat diterima. Warga lokal biasanya senang jika ada orang luar yang datang. Tapi hormati aturan setempat: lepas sepatu saat masuk area doa, jangan memotret tanpa izin, dan jangan menyentuh sesajen atau perlengkapan ritual.

Bangka Belitung bukan hanya tentang pantai yang fotogenik. Festival budayanya adalah jembatan ke masa lalu—tentang bagaimana masyarakat pulau bertahan, beradaptasi, dan merayakan hidup di tengah pasang surut zaman. Datanglah dengan rasa ingin tahu, bukan sekadar mencari konten Instagram.

Reporter: Syahrul Karim
Back to top