MENTOK — Tidak sekadar menyasar pelajar SMA dan SMK, KPU Bangka Barat memastikan hak suara warga lanjut usia di panti jompo juga teredukasi. Pada gelombang sosialisasi yang baru saja tuntas, puluhan lansia di Panti Jompo Desa Ketap mendapat materi tentang tata cara pencoblosan dan pentingnya partisipasi dalam pemilu.
Anggota KPU Kabupaten Bangka Barat, Henny Apriana, mengatakan program ini menyasar tiga kategori pemilih yang kerap luput dari perhatian. Pertama, pemilih pemula yang digembleng di tiga lokasi: Kantor Sekretariat KPU Bangka Barat (diikuti siswa MAN 1 Bangka Barat dan MA BIC Bangka Barat), kemudian SMK 2 Bina Karya dan SMALB Negeri Mentok, serta SMA Negeri 1 Jebus pada bulan lalu.
Kedua, pemilih marginal dan rentan yang dijangkau langsung di panti jompo. Ketiga, warga di daerah pinggiran dan pelosok yang mendapat giliran sosialisasi di Desa Buyankelumbi, Desa Pinangyang, Desa Airnyatoh, dan terakhir di Desa Tanjungniur yang dihadiri sekitar 25 orang pada Senin (21/7) lalu.
"Sosialisasi kelompok pinggiran ini terakhir kita laksanakan kemarin di Desa Tanjungniur," ujar Henny di Mentok, Kamis. Menurut dia, jemput bola ke desa-desa terpencil menjadi strategi utama KPU untuk menekan angka golput. Akses informasi yang terbatas dan jarak tempuh ke pusat kota kerap membuat warga pelosok enggan datang ke TPS.
Program ini merupakan bagian dari komitmen KPU memberikan akses informasi kepemiluan yang setara. Para peserta tidak hanya diberi pemahaman teknis mencoblos, tetapi juga nilai-nilai demokrasi dan peran strategis warga dalam menyukseskan tahapan pemilu.
Berdasarkan data pembaruan triwulan II tahun 2026, jumlah pemilih di Kabupaten Bangka Barat mencapai 158.655 jiwa. Rinciannya, 81.602 pemilih laki-laki dan 77.053 pemilih perempuan. Dengan sosialisasi yang berkesinambungan, KPU berharap kualitas partisipasi pemilih meningkat, bukan sekadar kuantitas.
"Kami terus berupaya agar pendidikan pemilih dilaksanakan rutin berkesinambungan sehingga dapat meningkatkan kesadaran politik masyarakat, memperkuat kualitas partisipasi pemilih sekaligus mendorong terwujudnya pemilu yang demokratis, berintegritas dan inklusif," jelas Henny.