JAKARTA — Ancaman di dunia maya tidak selalu datang dengan teriakan minta tolong. Psikolog Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, menyebut perubahan perilaku sehari-hari justru jadi alarm paling awal yang sering terlewatkan orang tua.
Menurut Romy, ada lima indikasi utama yang perlu diwaspadai. Pertama, anak menjadi lebih tertutup dari biasanya. Kedua, mereka kerap menyembunyikan layar gawai saat orang tua mendekat. Ketiga, emosi anak berubah-ubah tanpa sebab yang jelas.
"Mereka mungkin memiliki teman daring yang dirahasiakan dan tampak takut ketika ditanya tentang aktivitas di dunia maya," kata Romy kepada ANTARA pada Selasa.
Romy menegaskan bahwa perubahan perilaku ini bukan bentuk pembangkangan. Secara psikologis, anak-anak belum siap dan belum mampu melindungi dirinya di ruang digital.
"Perubahan yang ada merupakan sinyal bahwa ia sedang dalam konflik batin dan kesulitan memahami maupun mengungkapkan perasaan tidak amannya," ujarnya.
Anak usia 0 hingga 6 tahun, misalnya, umumnya belum mampu menyaring stimulasi dan mengelola emosi. Sementara anak 7 hingga 12 tahun yang mulai aktif internet belum mampu berpikir kritis dan menilai risiko. Pada usia 13 hingga 15 tahun pun, kemampuan mengendalikan diri dinilai belum matang.
Dengan keterbatasan itu, anak-anak sulit mendeteksi bahaya. "Sering kali predator mendekati anak secara halus dan bertahap, sehingga tidak disadari sebagai ancaman bagi anak," kata Romy.
Oleh karena itu, perlindungan tidak bisa menunggu. Orang tua dan sekolah perlu hadir mendampingi, membangun komunikasi yang aman, dan membuat aturan digital yang konsisten.
"Anak yang merasa aman akan berani bercerita, dan itu merupakan perlindungan terkuat dari ancaman digital, termasuk predator daring," tambahnya.
Romy menambahkan, implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas membutuhkan dukungan nyata dari orang tua, sekolah, dan masyarakat. Pencegahan, menurutnya, dimulai dari rumah.