BANGKA — Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 23.00 WIB saat Radit bersama rekannya, Jaka, sedang memindahkan ponton rajuk tower milik warga di aliran sungai. Keduanya tidak menyadari keberadaan predator yang mengintai dari kegelapan. Dalam hitungan detik, Radit langsung diterkam dan diseret ke tengah sungai.
Jaka, yang saat itu berada tak jauh dari lokasi, mengaku hanya mendengar suara riakan air yang keras. Ia sempat mencari secara mandiri, namun tidak membuahkan hasil. Laporan kemudian diteruskan ke aparat setempat dan dilanjutkan ke Basarnas Pangkalpinang untuk meminta bantuan pencarian.
Komandan Tim (Datim) Basarnas Bangka Belitung, Supani, menjelaskan bahwa operasi pencarian melibatkan tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI-Polri, BPBD, relawan, hingga sesama penambang. "Korban berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada pukul 10.55 WIB, pada radius sekitar 2 kilometer dari lokasi kejadian awal," ujar Supani, Senin (20/7/2026).
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan bahwa lokasi tersebut merupakan habitat buaya yang telah disulap menjadi tempat penambangan pasir timah ilegal. Serangan terhadap manusia di Sungai Baturusa bukanlah kali pertama terjadi. Warga setempat mengaku sudah beberapa kali mendengar insiden serupa di area yang sama.
Pihak Basarnas mengimbau warga agar tidak beraktivitas di kawasan sungai pada malam hari. "Kami mengimbau kegiatan-kegiatan di atas air harus dipastikan dalam keadaan aman. Apalagi waktu sore hari hingga malam itu adalah waktunya aligator seperti buaya mencari mangkuk," tambah Supani.
Jasad korban telah dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk proses lebih lanjut.