INDRAMAYU — Empat tahun bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia menjadi titik balik bagi Rosyidah. Sekembalinya ke kampung halaman di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, ia tak lagi bergantung pada sektor informal di luar negeri. Peluang justru ia temukan dari hasil laut yang selama ini melimpah, namun belum diolah maksimal.
Rosyidah melihat potensi besar dari sumber daya alam pesisir yang selama ini hanya dijual mentah. Ia lalu memberanikan diri mendirikan usaha olahan hasil laut dengan merek C'milzea. Lebih dari sekadar bisnis, ia ingin membuka lapangan kerja bagi para ibu nelayan di lingkungannya.
"Saya melihat sumber daya alam di sekitar sangat melimpah, tetapi belum memiliki nilai jual. Dari situ saya memberanikan diri mengolahnya menjadi produk sekaligus membuka peluang kerja untuk ibu-ibu nelayan di sekitar," ujarnya.
Perjalanan Rosyidah membangun usaha tidaklah mulus. Tantangan terbesar justru datang dari dalam dirinya sendiri: membangun kepercayaan diri sebagai pelaku usaha. Ia harus belajar mengubah pola pikir, bangkit dari keraguan, dan memahami strategi pemasaran agar produknya dikenal luas.
Kondisi ini mendorongnya untuk mencari ruang belajar. Rosyidah kemudian mengikuti Pelatihan Purna Pekerja Migran yang digelar oleh BRI. Program tersebut menjadi bekal berharga untuk memperkuat kapasitas kewirausahaan sekaligus memperluas wawasan dalam mengembangkan usaha.
Kehadiran usaha C'milzea memberikan dampak langsung bagi perekonomian warga sekitar. Para ibu nelayan yang sebelumnya hanya mengandalkan pendapatan suami kini bisa berkontribusi menghasilkan uang tambahan. Produk olahan hasil laut buatan mereka pun mulai dikenal di pasar lokal.
Kisah Rosyidah menjadi contoh bagaimana program pemberdayaan purna PMI bisa mendorong lahirnya usaha mikro baru di daerah pesisir. Dengan pelatihan yang tepat, potensi sumber daya alam yang melimpah bisa diubah menjadi produk bernilai tambah yang menopang ekonomi keluarga.