PANGKALPINANG — Di tengah berbagai program pertanian yang terus diluncurkan, petani di sentra produksi padi justru masih bergantung pada cuaca untuk mengeringkan hasil panennya. Temuan ini diungkapkan Rina Tarol saat meninjau Unit Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA) Berkah Tani di Desa Rias.
Para petani mengeluhkan sulitnya proses pengeringan gabah saat musim hujan. Akibatnya, kualitas beras menurun drastis dan potensi kerugian petani membengkak.
Dari hasil tinjauan, UPJA Berkah Tani saat ini hanya memiliki empat unit traktor dan rotavator. Padahal, kebutuhan paling mendesak yang diharapkan petani adalah mesin pengering yang bisa beroperasi tanpa tergantung sinar matahari.
Rina menilai distribusi bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) selama ini perlu dievaluasi. Ia khawatir bantuan hanya berputar di kelompok tertentu tanpa menyentuh kebutuhan dasar petani di lapangan.
“Jangan sampai alsintan hanya dikuasai beberapa pihak. Kita ingin UPJA bertambah sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh petani,” kata Rina, Sabtu (18/7/2026).
Persoalan di Desa Rias tidak berhenti pada minimnya alat. Rina menyoroti ancaman yang lebih besar: berkurangnya debit sumber air dan alih fungsi lahan sawah menjadi perkebunan kelapa sawit.
Desa Rias selama ini dikenal sebagai lumbung padi dan penyangga utama ketahanan pangan Bangka Belitung. Jika lahan produktif terus menyusut tanpa langkah antisipasi, produksi pangan daerah terancam jangka panjang.
“Jangan sampai ketahanan pangan hanya menjadi jargon tanpa implementasi,” tegas Rina.
Legislator itu mendesak pemerintah provinsi segera memiliki data akurat mengenai luas lahan sawah yang tersisa, kondisi irigasi, hingga ketersediaan sumber air. Tanpa basis data yang jelas, kebijakan yang diambil berpotensi tidak tepat sasaran.
Rina juga mengingatkan agar rencana pembangunan pintu air dan saluran pembuangan menuju laut tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Proyek tersebut harus melalui kajian lingkungan yang matang agar tidak memicu masalah baru, seperti berkurangnya pasokan air untuk areal persawahan.
Ia menegaskan, kunjungan kerja seperti yang dilakukannya tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial. Keluhan petani harus berujung pada kebijakan nyata yang memperbaiki sistem produksi pangan.
“Yang dipertaruhkan bukan hanya nasib petani, tetapi juga masa depan ketahanan pangan Bangka Belitung,” jelas Rina.